Buah Kesabaran 10 Tahun Emiliano Martinez

Dalam sebuah interview pekerjaan, tak jarang ditemui pertanyaan yang menguji rasa percaya diri seseorang. Salah satunya, "apa yang kamu lihat di lima tahun ke depan?" Andai sang pelamar itu adalah Emiliano Martinez, waktu lima tahun belumlah cukup. Butuh kesabaran 10 tahun lamanya, hingga ia akhirnya dapat kesempatan membuktikan kualitas yang dimiliki.

Arsenal mengalahkan Chelsea 2-1 dalam laga final FA Cup pada Minggu (2/8/2020) dini hari di Stadion Wembley. Pierre-Emerick Aubameyang jadi pahlawan berkat dua golnya. 

Penyerang asal Gabon tersebut memang jadi sorotan utama dalam laga final FA Cup kali ini, tapi sebenarnya masih ada sosok lain yang luput dari perhatian. Ia adalah palang pintu terakhir pertahanan Arsenal, Emiliano Martinez. 

Bisa dibilang, laga ini adalah pertandingan terbesarnya selama membela The Gunners. Sejak kiper utama Bernd Leno menderita cedera ketika berhadapan dengan Brighton pada Juni lalu, praktis Emiliano Martinez yang berstatus kiper cadangan  naik pangkat. Martinez tak menyia-nyiakan kesempatan untuk jadi pilihan pertama di bawah mistar Arsenal. Hingga akhirnya berhasil mengantar Arsenal juara FA Cup.

Buah Kesabaran 10 Tahun


Mungkin tak banyak yang tahu jika musim ini adalah tahun ke-10 Emiliano Martinez membela Arsenal. Menjadikannya sebagai pemain "paling senior" di skuat Mikel Arteta. Bahkan legenda-legenda Arsenal saja sedikit kali yang begitu setia seperti Emiliano Martinez. Ambil contoh Thierry Henry yang berbaju Arsenal selama delapan musim, atau Robert Pires yang cuma enam musim.

Hal yang membuat Emiliano Martinez tak banyak dibicarakan, karena masa 10 tahunnya membela Arsenal lebih banyak dihabiskan di klub-klub lain sebagai pemain pinjaman.

Bergabung di akademi Arsenal pada tahun 2010, kiper kelahiran Argentina ini baru bisa menjalani debut pada tahun 2012 melawan Coventry City di Carabao Cup setelah sebelumnya dipinjamkan ke Oxford United.

Emiliano Martinez kembali dipercaya menjalani penampilan keduanya di kompetisi yang sama melawan Reading, Martinez bisa dibilang tampil buruk karena kemasukan 5 gol. Beruntung Arsenal masih bisa menang 7-5 berkat hattrick Theo Walcott.

Musim 2013–2014 jadi kali kedua Martinez dipinjamkan. Berseragam Sheffield Wednesday, Martinez cuma melakoni 11 laga. Di musim berikutnya, ia kembali ke Arsenal dan menjadi kiper ketiga pelapis David Ospina dan Wojciech Szczesny.

Seolah mendapat berkah dari cederanya David Ospina dan hukuman larangan tampil yang diterima Wojciech Szczesny, Martinez mendapat kesempatan menjalani debut di panggung Liga Champions melawan Anderlecht. Arsenal sukses meraih kemenangan 2-1 dalam laga tersebut.

Sebulan berselang, Martinez kembali bermain ketika Wojciech Szczesny mengalami cedera. Kali ini di ajang Premier League melawan Manchester United. Sejak itu, ia tampil dalam empat pertandingan Arsenal berikutnya.

Itu kali terakhir Emiliano Martinez bisa dipercaya mengawal bawah mistar Arsenal. Dalam empat musim berikutnya, Martinez empat kali dipinjamkan ke klub berbeda-beda. Mulai dari Rotherham United (2015), Wolves (2015-2016), Getafe (2017-2018), dan Reading (2019).

Musim 2019-2020, Unai Emery memercayai Emiliano Martinez sebagai deputi Bernd Leno di bawah mistar gawang sehingga tak ada lagi "masa sekolah" bagi kiper Argentina tersebut.

Bahkan Unai Emery selalu menurunkan Martinez di semua laga Liga Europa yang dimainkan Arsenal. Meskipun, kiprah Arsenal harus kandas di babak 16 besar.

Seperti sudah disebutkan, laga Arsenal melawan Brighton pada Juni lalu bagaikan momentum karier Emiliano Martinez di London Utara. Kala Bernd Leno harus ditandu keluar lapangan karen cedera, praktis Martinez jadi pilihan utama.

Sejak saat itu, Martinez selalu mengawal gawang Arsenal hingga pertandingan final FA Cup melawan Chelsea. Bahkan persentase save Martinez di Premier League musim ini adalah 81.8%, mengungguli Bernd Leno yang cuma 74,2%.

Roda Hidup yang Terus Berputar


Damián Emiliano Martínez Romero, lahir di Mar del Plata, Argentina, pada 2 September 1992. Martinez besar dalam keluarga yang tergolong miskin. Di suatu kesempatan, bahkan orang tuanya kesulitan menyediakan makanan dan membayar tagihan.

Martinez mulai mengenal sepakbola ketika bergabung dengan klub junior Independiente yang berlokasi 400 km dari kampung halamannya.

Saat berusia 16 tahun, bakat Martinez tercium oleh pemandu bakat Arsenal. Mahar 1,1 juta euro dikeluarkan The Gunners demi memboyongnya dari Independiente.

Sebenarnya, keluarga tak mengizinkan dirinya untuk meninggalkan Argentina. Namun, Martinez yang masih berusia 16 tahun kala itu bersikukuh untuk pergi dan bercita-cita mengubah kondisi ekonomi keluarga melalui sepakbola.

Sepuluh tahun setelah meninggalkan Argentina, sepuluh tahun setelah dipinjamkan ke berbagai klub, sepuluh tahun setelah menjadi kiper pelapis Arsenal, kini Emiliano Martinez berhasil memanen buah kesabaran yang terus ia pupuk.

Sebuah foto memperlihatkan Emiliano Martinez sedang face call dengan keluarganya di Argentina sesaat setelah ia menjuarai FA Cup. Sebuah foto yang memancarkan gurat haru, mengajarkan arti dari kesabaran.

***

Mengulik Para Pengusik Kepa Arrizabalaga di Bawah Mistar Chelsea

Publik dibuat tercengang sesaat setelah Liverpool meresmikan pembelian Alisson Becker dari AS Roma. Bukan tanpa sebab, pasalnya Alisson didaulat sebagai pembelian kiper termahal sepanjang sejarah kala itu dengan bandrol 75 juta euro. 

Nada skeptis langsung mencuat karena Liverpool sangat berani mengeluarkan biaya besar hanya untuk seorang penjaga gawang. Umumnya, para striker atau playmaker yang selalu dapat porsi lebih besar ketika sesi transfer dibuka.

Namun, keterkejutan publik sepakbola terhadap transfer Alisson Becker segara teralihkan kala Chelsea merampungkan proses kepindahan Kepa Arrizabalaga dari Athletic Bilbao senilai 80 juta euro. Angka tersebut menjadikan Kepa Arrizabalaga sebagai kiper termahal di dunia sepanjang sejarah.

Sebagai suksesor Thibaut Curtois yang baru hijrah ke Real Madrid, tentu membuat publik Stamford Bridge menaruh ekspektasi tinggi terhadap Kepa. Apalagi ditambah dengan statusnya sebagai kiper termahal di dunia.

Di saat Alisson Becker menjadi bintang Liverpool dengan gelar Liga Champions dan Premier League, Kepa Arrizabalaga malah jadi pesakitan di bawah mistar Chelsea. Dua tahun berseragam The Blues, kritik pedas terus dilayangkan kepada pria kelahiran Basque tersebut. Bahkan di musim pertamanya, Kepa sempat bersitegang dengan Maurizio Sarri karena menolak diganti. 

Mengutip Daily Mail, Kepa Arrizabalaga memiliki statistik terburuk di antara para penjaga gawang di lima liga top Eropa. Dari 98 kiper yang telah bermain selama minimal 1.500 menit di Eropa, persentase penyelamatan Kepa hanyalah 54,5 persen. Angka itu didapat setelah hanya bisa menyelamatkan 55 dari 99 tembakan  yang mengarah kepadanya.

Bandingkan beberapa kiper top lain seperti Hugo Lloris (80,2%) atau David de Gea (74,2%) yang musim ini kerap membuat blunder.

Frank Lampard tak tinggal diam melihat lini belakangnya jadi kelemahan yang terus dimanfaatkan para lawan Chelsea. Setelah sukses merekrut Hakim Ziyech dan Timo Werner, bidikan Lampard selanjutnya di bursa transfer tentu saja posisi penjaga gawang.

Beberapa nama sudah mulai muncul ke publik untuk mengusik posisi Kepa Arrizabalaga di bawah mistar gawang Chelsea.

Berikut nama-nama penjaga gawang terbaik yang bisa saja di musim depan akan berbaju The Blues:

1. Andre Onana

Ajax Amsterdam seolah tak pernah kehabisan talenta-talenta muda. Setelah musim lalu mereka melepas Matthijs de Ligt ke Juventus dan Frankie de Jong ke Barcelona, kini nama Andre Onana yang santer terdengar bakal dilego.

Pemain kelahiran Kamerun ini menjadi kiper dengan prospek cerah di Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Onana menjadi bagian penting kala Ajax menembus babak semifinal Liga Champions dua musim lalu dan mengantarkan Ajax juara Liga Belanda musim ini.

Dana 26 juta poundsterling jadi syarat bagi Chelsea untuk mendapatkan kiper berusia 24 tahun tersebut.

2. Nick Pope

Sejak zaman dulu, Inggris bisa dibilang cukup sulit menelurkan kiper-kiper hebat. Anomali pada musim ini, beberapa kiper Inggris nyatanya mampu membuktikan kemampuan. Salah satunya adalah Nick Pope. Sejak bergabung dengan Burnley dari Charlton Athletic pada tahun 2016, Pope berkembang jadi salah satu kiper terhebat di Liga Inggris.

Di musim ini, Pope mampu 15 kali menjaga gawangnya tetap perawan. Ia hanya kalah dari Ederson yang mencatatkan 16 nir bobol bersama Manchester City.

Mengutip dari Transfer Market, nilai Nick Pope di pasaran sekitar 12 juta euro. Bukan uang yang cukup banyak untuk klub sekelas Chelsea.

3. Dean Henderson

Satu lagi kiper Inggris yang mencuri perhatian di Premier League musim ini. Meski hanya membela klub promosi Sheffield United, tapi tak membuat pijar Dean Henderson memudar. Mengemas 13 kali nir bobol jadi bukti sahih kepiawaian Dean Henderson di bawah mistar gawang.

Peluang Chelsea menggaet Dean Henderson pun cukup besar, mengingat ia berstatus pemain pinjaman dari Manchester United. Andai Henderson memilih kembali ke Old Trafford, kemungkinan ia cuma jadi pelapis David de Gea saja.

4. Jan Oblak

Andai Chelsea menginginkan penjaga gawang yang kualitasnya sudah teruji di Eropa, nama Jan Oblak adalah pilihannya. Empat kali didaulat sebagai kiper terbaik di Liga Spanyol jadi bukti nyata bagaimana terampilnya Jan Oblak di bawah mistar gawang.

Sayang, untuk mendatangkan kiper Polandia tersebut tidak mudah. Tak kurang biaya 100 juta euro plus Kepa Arrizabalaga konon jadi mahar memboyong Jan Oblak ke London.

5. Marc-Andre ter Stegen

Ter Stegen masih menyisakan dua tahun kontraknya bersama Barcelona. Namun, tak menutup kemungkinan jika Chelsea bisa merekrutnya di musim ini. Apalagi kondisi internal Barcelona sedang tidak baik akibat konflik antara jajaran manajer dan para pemain.

Andai Ter Stegen mau berlabuh ke London, Chelsea akan jadi kekuatan besar yang berpeluang mengganggu dominasi Liverpool dan Manchester City di Liga Inggris.

Andre Schurrle dan Mereka yang Pensiun Terlalu Dini



Bagi sebagian orang, profesi sepak bola merupakan pilihan pekerjaan yang riskan. Tak seperti pegawai kantoran, pemain sepak bola memiliki jenjang karier yang cukup singkat. Rata-rata angka produktif para pemain sepak bola akan menurun jika telah memasuki usia 36 tahun ke atas. 

Ketahanan fisik adalah kunci utama para pesepak bola profesional demi menunjang performanya di lapangan. Tak ayal, ketika usia makin bertambah namun tidak diimbangi oleh fisik prima, siap-siap saja pintu keluar bernama pensiun menjadi pilih logis untuk diambil.

Andre Schurrle merupakan kasus terbaru dari ketatnya industri sepak bola belakangan ini. Di usia yang masih tergolong muda yakni 29 tahun, pemain yang membawa Jerman juara Piala Dunia 2014 itu memutuskan pensiun.

Melalui akun Instagramnya, Schurrle menuliskan salam perpisahannya. "Atas nama saya dan keluarga, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang menjadi bagian dari tahun-tahun yang fenomenal ini! Dukungan dan cinta yang kalian berikan luar biasa dan lebih dari yang pernah saya minta."

Nama Schurrle mencuat kala membela Mainz 05 dan Bayern Leverkusen. Chelsea kemudian memboyong pemuda kelahiran 6 November 1990 ke Stamford Bridge. Dua tahun di London, Schurrle cuma bermain sebanyak 44 kali dan mengemas 11 gol. Ia kemudian hijrah ke Wolfsburg sebelum akhirnya berlabuh bersama Dortmund.

Sayang, lagi-lagi Schurrle tak bisa menunjukkan performa terbaiknya. Sempat dipinjamkan ke Fulham dan Spartak Moscow, hingga akhirnya ia memilih untuk pensiun setelah Dortmund memutus kontraknya meski masih menyisakan durasi satu tahun.

Andre Schurrle hanyalah satu nama dari pesepak bola yang memilih gantung sepatu di usia yang terbilang dini. Beberapa lainnya adalah;

1. Marco van Basten



227 gol selama berkarier sebagai pesepak bola merupakan bukti bagaimana kehebatan Marco van Basten sebagai seorang striker. Periode 1980-an hingga akhir 1990-an van Basten adalah role model penyerang kelas satu. Punya kaki kiri dan kanan yang sama kuat, jago duel udara, dan ketenangannya dalam menyelesaikan peluang sekecil apapun, bikin ia diganjar tiga gelar Ballon d`Or dan satu gelar pemain terbaik FIFA.

Ajax, AC Milan dan Timnas Belanda mungkin cukup beruntung memiliki van Basten dalam timnya. Berbagai gelar mampu van Basten persembahkan untuk klub yang ia bela. Sayang, bakat besarnya itu terkendala cedera hebat yang ia alami di usia 28 tahun. Meski masih bisa bertahan, cedera pergelangan kaki, membuatnya harus memilih pensiun dini di usia 31 tahun.

2. Eric Cantona



Pada 18 Mei 1997 publik Old Trafford dibuat kaget akibat keputusan Eric Cantona pensiun dari dunia sepak bola. Bagaimana tidak, pemain bernomor 7 itu sedang berada di masa emasnya dan tidak terganggu masalah cedera. Di musim terakhirnya membela Manchester United, bahkan Cantona masih bisa mengoleksi 11 gol dan 12 assist.

Kekalahan atas Dortmund di semifinal Liga Champions 1996/1997 dikabarkan jadi alasan kuat Cantona memilih pensiun. Padahal jika Cantona masih mau melanjutkan karier sepak bolanya, minimal selama dua tahun, ia bisa jadi bagian skuat Manchester United meraih Treble Winner sekaligus mengantar Prancis jadi juara Piala Dunia 1998.

3. Carlos Roa



Jika kebanyakan pesepak bola memilih pensiun dini karena alasan cedera, beda halnya dengan Carlos Angel Roa. Kiper timnas Argentina di Piala Dunia 1998 ini memutuskan gantung sepatu akibat menganut seuatu kepercayaan.

Ya, Roa meyakini jika akan terjadi kiamat pada akhir tahun 1999. Alhasil, Roa tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Keluarga dan staff Mallorca, klub Roa kala itu, panik dengan perilaku Roa tersebut.

Padahal karier Carlos Roa sebenarnya sedang menanjak. Setelah tampil membela Argentina di Piala Dunia 1998, Roa punya kesempatan bergabung bersama Manchester United sebagai penerus Peter Schmeichel

4. Just Fontaine



Mungkin nama Just Fontaine cukup asing di telinga penggemar sepak bola. Padahal, pemain berkewarganegaraan Perancis itu punya rekor hebat yang rasanya sulit dipecahkan oleh siapapun. 

Sebelum hadirnya Ronaldo dan Miroslav Klose, Just Fontaine merupakan pemegang rekor pencetak gol terbanyak di Piala Dunia dengan 13 gol. Hebatnya, Just Fontaine cuma butuh satu gelaran Piala Dunia saja untuk mengemas seluruh golnya itu. Semuanya terjadi di Piala Dunia 1958 yang digelar di Swedia. 

Sayangnya, pada saat itu belum ada penghargaan khusus terhadap pemain yang paling banyak mencetak gol. Just Fontaine baru menerima Sepatu Emas 40 tahun kemudian yang diserahkan legenda Inggris, Gary Lineker.

Nama Just Fontaine memang tak setenar para top skor Piala Dunia lainnya. Mungkin salah satu alasannya karena karier Fontaine yang singkat. Pemain yang punya darah Maroko ini terpaksa pensiun dini di usia 27 tahun setelah dua kali mengalami patah tulang kaki.

5. Sebastian Deisler



Sebastian Deisler adalah pemain Jerman yang punya prospek cerah. Di usia 20 tahun, Deisler sudah membela timnas Jerman. Deisler juga merupakan pemain termuda yang masuk skuat Jerman dalam gelaran Piala Eropa 2000 di Belanda dan Belgia. 

Sayang, bakat besar sejak usia muda itu harus pupus akibat cedera berkepanjangan. Akibatnya, Deisler merasa depresi dan tak pernah lagi mempercayai kakinya untuk terus bermain sepak bola. Sebastian Deisler memutuskan gantung sepatu di usia 27 tahun ketika membela Bayern Munich.

6. Hidetoshi Nakata



Di media 90-an, tak banyak pesepak bola asal Asia yang bisa merumput di liga-liga Eropa. Satu nama yang mungkin merepresentasikan Asia di industri sepak bola kala itu tak lain adalah Hidetoshi Nakata. Pemain Jepang ini berhasil menjalani debut manisnya bersama Perugia. 

1,5 tahun berselang, sinar Nakata makin gemerlap setelah pindah ke AS Roma. Ia mampu mempersembahkan Scudetto untuk Roma pada musim 2000/2001. 

David Beckham versi Asia ini juga sempat merumput di beberapa klub seperti Fiorentina, Parma, Bologna, dan Bolton, sebelum akhirnya memilih pensiun di usia 29 tahun.

Nakata punya alasan kuat gantung sepatu di usia yang masih produktif untuk ukuran pesepak bola. 

"Ketika saya lahir saya tidak dilahirkan untuk menjadi pemain sepak bola, saya dilahirkan untuk menjadi diri saya sendiri," ucap Nakata.

"Jadi sepak bola hanya gairah saya. Saya tidak melihat sepak bola sebagai karier atau impian saya," imbuhnya, dikutip SportFEAT.com dari SCMP.com.

7. David Bentley



Jika sudah tak cinta, untuk apa dilanjutkan. Mungkin ungkapan itu sangat tepat ditunjukkan kepada David Bentley. Pemain yang sempat dijuluki The Next David Beckham karena memiliki akurasi umpan yang presisi ini memutuskan gantung sepatu karena tak lagi memiliki gairah saat bermain sepak bola. 

Berada di puncak karier kala merumput bersama Spurs, Bentley mengakhiri kariernya pada tahun 2013 setelah membela beberapa klub seperti Birmingham City, West Ham United, Blackburn hingga klub Rusia, FC Rostov.

"Sekarang semuanya seperti robot mulai dari sisi media sosial hingga uang yang dihasilkan di pertandingan. Saya benci mengatakannya, tapi itu membuatnya membosankan dan mudah diprediksi. Untuk bermain tiga atau empat tahun lagi bukan pilihan tepat bagi saya," ujar pemain yang pensiun di usia 29 tahun tersebut seperti dikutip dari The Guardian.

Flat Earth FC, Bola Memang Bulat tapi Tidak dengan Bumi!




Dalam salah satu video channel YouTube-nya, Deddy Corbuzier mengundang Young Lex untuk berbincang-bincang. Meski Young Lex dikenal sebagai seorang rapper, tapi bukan itu yang jadi tajuk utama pembicaraan. 

Jauh dari obrolan tentang musik, Deddy Corbuzier dan Young Lex berdebat seru tentang teori konspirasi di balik pandemi virus corona. Seru yang saya maksud, karena obrolan tentang teori konspirasi itu jadi bahan diskusi di berbagai media sosial. 

Ada yang percaya jika pandemi corona berasal dari teori konspirasi, ada pula orang-orang yang beranggapan cakap-cakap mereka cumalah omongan sampah. Ya, seperti lazimnya teori konspirasi, pada akhirnya akan selalu menimbulkan perdebatan mana yang benar dan mana yang salah.

Oxford English Dictionary menjelaskan teori konspirasi adalah suatu teori, bahwa kejadian atau gejala timbul sebagai hasil konspirasi antara pihak-pihak yang berkepentingan, dan adanya suatu lembaga yang bertanggungjawab atas kejadian yang tak bisa dijelaskan.

Teori konspirasi memang sudah ada sejak zaman dulu. Momen bersejarah Neil Amstrong menginjakkan kaki di bulan mungkin jadi salah satu teori konspirasi paling seksi yang terus dibahas sampai sekarang. Apalagi berkat kemajuan dunia teknologi, membuat arus informasi makin deras bak pupuk yang menyuburkan macam-macam teori konspirasi.

Jika Deddy Corbuzier dan Young Lex masih mendebatkan teori konspirasi di internet, Javi Poves memilih jalan yang lebih ekstream. Kepercayaannya terhadap teori bumi datar, mendorongnya membentuk sebuah tim sepak bola bernama...... Flat Earth FC!

Sepak Terjang Javi Poves 




Sebelum jauh membahas Flat Earth FC, mari kita cari tahu dulu siapa Javi Poves. Ia termasuk pesepak bola muda yang menjanjikan. Tumbuh besar di kota Madrid, Poves menimba ilmu di akademi sepak bola Atletico Madrid dan Rayo Vallecano sebelum akhirnya direkrut Sporting Gijon. 

Pemain yang berposisi sebagai bek tengah itu menjalani debut di La Liga dalam pertandingan terakhir musim 2010-2011. Ia lalu memilih pensiun dini setelah cuma menjalani satu pertandingan itu bersama Sporting Gijon. Usianya baru 23 tahun kala itu.

Idealisme dalam diri Javi Poves yang membuatnya pergi meninggalkan sepak bola. "Apa yang saya lihat semakin jelas. Sepak bola profesional hanyalah tentang uang dan korupsi. Ini kapitalisme, dan kapitalisme adalah kematian," ucap Poves. 

"Saya tidak ingin menjadi bagian dari sistem yang didasarkan pada orang yang menghasilkan uang dengan mengorbankan kematian orang lain di Amerika Selatan, Afrika dan Asia. Sederhananya, hati nurani saya tidak akan membiarkan saya melanjutkan ini," lanjutnya.

Javi Poves meninggalkan sepak bola sehingga bisa menjalani kehidupan yang "bersih". Ia memutuskan berkeliling dunia. Poves tidak bisa menerima bagaimana sistem kapitalis bekerja dalam industri sepak bola, namun ia tak naif tentang bagaimana uang bekerja. 

Dia mengatur keuangannya dengan menggunakan 1.000 Euro per bulan yang dia dapatkan dari menyewakan apartemen di Madrid sehingga bisa membiayai perjalannya.

Javi Poves menghabiskan lima tahun hidup di sudut paling tidak jelas di dunia, termasuk Iran, Venezuela, Kyoto, Novosibirsk, Buenos Aires, hingga Senegal di mana ia terjangkit malaria.

Kembali ke Sepak Bola




Sejauh-jauhnya ia berpergian, ternyata tak bisa mengalahkan cintanya terhadap sepak bola. Poves kembali ke sepakbola bersama klub SS Reyes sebelum akhirnya menemukan CD Móstoles, sebuah klub yang bermarkas di 15 mil selatan pusat kota Madrid. 

Poves dipilih sebagai presiden klub tahun 2016 dan sukses membawa klub promosi ke Divisi Empat Liga Spanyol musim lalu. Di tengah popularitas klub yang terus meningkat, Poves mengambil keputsan untuk me-rebranding jati diri klub. Bukan sekadar rebranding, Poves mengubah nama klub menjadi Flat Earth FC!

Pemilihan nama Flat Earth FC memang bukan tanpa sebab. Poves percaya sepak bola bisa jadi kendaraan tepat baginya untuk mengkampanyekan teori bumi datar.

"Kami adalah klub sepak bola profesional dari Tercera Division di Spanyol. Kami dilahirkan untuk menyatukan suara jutaan pengikut gerakan bumi datar dan semua orang yang mencari jawaban dan kebenaran yang sejati (tentang bentuk bumi)," kata Poves, dilansir Marca.

Logo klub kini berganti menjadi bentuk bumi yang well....datar! Untuk maskot? Seorang astronot! Konspirasi tentang perjalanan manusia ke bulan mungkin jadi alasannya.

Flat Earth FC kini bukan cuma klub kasta keempat di sepak bola Spanyol saja. Sebabnya, mereka punya basis fans yang tersebar di seluruh dunia yang disatukan karena kepercayaan bumi datar. "Sungguh luar biasa menjadi bagian dari gerakan hebat ini," kata salah satu pemain Flat Earth, Mario Cardete, yang dikutip dari The Guardian.

Sepak bola kini bukan lagi sekadar gerakan politik seperti di era Benito Mussolini. Bukan juga sekadar wadah kaum kelas pekerja menyuarakan aspirasinya. Kini sepak bola sudah jadi bagian kampanye konspirasi hebat dalam diri Flat Earth FC!

Alban Lafont, Harapan Bawah Mistar Perancis!



28 November 2015, Toulouse menjamu OGC Nice di Stade Municipal. Tim tuan rumah sedang dalam kondisi terpuruk. Toulouse berada di urutan ke-19 klasemen sementara Liga Prancis dengan perolehan  9 poin dari 14 pertandingan. Belum lagi mereka cuma bisa meraih satu kemenangan serta 12 kali kebobolan. Berbagai catatan buruk itu, membuat tim asuhan Dominique Arribagé tak diunggulkan.

Alih-alih memainkan tim terbaiknya, Dominique Arribagé malah membuat ekperimen gila. Dua pemain akademi dipercaya menjalani debutnya saat itu. Issa Diop (18 tahun) mengisi posisi bek tengah dan Alban Lafont (16 tahun) berdiri di bawah mistar. Kehadiran keduanya mungkin bisa disebut sebagai "Youngest Defensive Duo" yang pernah ada di Liga Prancis.

Bagi Alban Lafont, itu bukanlah debut yang biasa. Di usia 16 tahun 310 hari, ia mencatatkan rekor sebagai kiper temuda di Liga Prancis mengalahkan Mickaël Landreau. Lebih spesial lagi, Lafont mampu mempertahankan gawangnya tidak kebobolan yang membuat Toulouse menang 2-0 atas OGC Nice. Di pertandingan selanjutnya, Alban Lafont kembali buktikan kemampuan. Melawan Troyes, Lafont mencatatkan nir bobol sekaligus membantu Toulouse menang 3-0. 

Sampai akhir musim 2015-2016, kiper kelahiran Burkina Faso itu dipercaya mengawal gawang Toulouse dalam 24 pertandingan serta meraih 8 kali nir bobol. Toulouse pun berhasil lolos dari zona degradasi pada pertandingan pamungkas.

Bagi para penggemar game virutal Football Manager, Alban Lafont tentunya bukanlah nama yang asing. Dalam seri Football Manager beberapa tahun terkahir, Alban Lafont selalu muncul sebagai pemain muda atau wonderkid dengan statistik mengkilap yang wajib dimiliki oleh para manager. 

Menjanjikan Sejak Muda



Alban Marc Lafont lahir di Ouagadougou, ibukota Burkina Faso pada 23 Januari 1999 dari ayah Prancis dan ibu Burkina Faso. Setelah orang tuanya bercerai, Lafont hijrah ke Prancis bersama sang ayah. Di sana, ia bergabung bersama akademi sepak bola amatir AS Lattoise pada tahun 2008. Awalnya Lafont berposisi sebagai gelandang serang sebelum akhirnya berpindah posisi menjadi seorang penjaga gawang. Dia menghabiskan waktu enam tahun sebelum direkrut oleh Toulouse pada 2014.

Musim pertamanya bersama Toulouse bisa dibilang sebagai pembuktian kelahiran calon bintang masa depan sepak bola. Bakat Lafont pun diakui oleh media terkemuka La Gazzetta dello Sport. Alban Lafont berada diurutan ke-34 sebagai "Pemain Terbaik di Bawah 20 Tahun" menurut media asal Italia tersebut. Lafont jadi satu-satunya kiper yang masuk daftar tersebut selain kiper AC Milan, Gianluigi Donnarumma.

Pada Februari 2018, Alban Lafont dinobatkan oleh CIES Football Observatory sebagai pemain sepak bola paling menjanjikan di bawah 20 tahun setelah Gianluigi Donnarumma. Alban Lafont mengalahkan Kylian Mpabbe yang berada di posisi ketiga.

Penampilan cemerlang Lafont bersama Toulouse pun turut mendapat banyak pujian, salah satunya berasal dari kiper legendaris Prancis Mickael Landreau. "Saya suka ketenangannya. Alban membuat keputusan dalam menghalau tembakan yang brilian dan posisinya sangat bagus. Karier yang hebat akan ia dapatnya," ujar pria yang sempat membela Nantes, PSG, dan Lille tersebut.

Alban Lafont dibekali postur tubuh tinggi. Membuatnya cukup piawai menghadang bola-bola atas. Kepercayaan diri yang dimilikinya pun menjadi modal besar saat berhadapan 1 lawan 1 dengan striker lawan. Namun satu hal yang membuat Lafont disebut-sebut sebagai kiper berbakat di generasi sekarang adalah refleksnya dalam membaca arah bola.

Salah satu penampilan gemilangnya bisa dilihat ketika Toulouse berhadapan dengan PSG. Edison Cavani dibuat mati kutu oleh Lafont. Pasanyal, dua kali Lafont melakukan penyelamatan dari blank spot hasil kreasi Cavani.

Petualangan di Italia



Seperti halnya para pemian muda di Liga Prancis, bakat Alban Lafont banyak menarik minta klub-klub top Eropa yang getol memburu calon bintang. Arsenal jadi salah satu klub yang kepicut. Meriam London memang sedang mengincar pemain yang berada di pos penjaga gawang sebagai penerus Petr Cech yang kala itu segera pensiun.

Bagi para pemain muda asal Prancis, Arsenal bisa dibilang sebagai tempat berlabuh yang tepat untuk mengasah kemampuan. Tak terhitung sudah berapa banyak bintang-bintang besar Prancis yang mekar bersama Meriam London. Sebut saja Patrick Vierra, Thierry Henry, Robert Pires, sampai yang paling anyar Matteo Guendouzi. Tak tekecuali dengan Alban Lafont yang punya keinginan kuat membela klub top Eropa.

Nasib berkata lain. Alih-alih pergi ke Inggris, Lafont pada akhirnya berlabuh di kota Florence. Fiorentina berhasil mendatangkan pemain Prancis tersebut dengan tranfers 8,5 juta euro atau setara 142 miliar rupiah pada Juli 2018. Fiorentina yang baru saja kehilangan Marco Sportiello, menjanjikan Alban Lafont tempat utama di bawah mistar gawang Artemio Franchi.

Kedatangan Alban Lafont membuat Serie A semakin menarik. Ini bisa jadi ajang pembuktian dua kiper muda berbakat. Pasalnya, Serie A sudah memiliki salah satu kiper muda paling menjanjikan dalam diri Gianluigi Donnarumma. Sejak menjalani debutnya sebagai pesepakbola profesional, dua nama kiper ini memang diprediksi akan jadi pemain masa depan. Bedanya Donnaruma mendapatkan spotlight lebih besar mengingat ia sudah bermain bersama AC Milan dan Timnas Italia.

Sayangnya, kehidupan Lafont di Italia tak berjalan manis. Meski selalu jadi pilihan utama di bawah mistar gawang Fiorentina,  Lafont belum bisa menunjukkan kemampuan terbaik seperti yang ia lakukan bersama Toulouse. Dari 34 pertandingan, Lafont hanya mencatatkan 9 kali nir bobol serta 40 kali kebobolan. Penampilan impresif Bartlomiej Dragowski yang dipinjamkan Fiorentina ke Empoli pun makin mengancam posisi Lafont.

Musim 2019-2020, Fiorentina meminjamkan Alban Lafont ke Nantes selama dua tahun dengan opsi pembelian. "Sejujurnya, saya sangat senang berada di Florence. Itu adalah kota yang indah dan selalu ada di hati saya. Saya merasa petualangan saya di sini sudah berakhir," ujar Lafont dikutip dari Firenzeviola.it.

"Sebenarnya, kembali ke Prancis bukanlah pilihan utama. Saya lebih ingin mencari pengalaman lain. Tapi pada akhirnya, saya memutuskan kembali ke Prancis di mana saya menunjukkan performa terbaik," lanjut Lafont.

Kini Alban Lafont kembali memulai petualangannya di Nantes, Prancis. Memulai kembali membangun reputasinya sebagai kiper paling menjanjikan di dunia.