Penjaga Gawang, Sejarah Pemilik Nomor Satu yang Abadi


Angka satu kerap dikaitkan dengan yang terbaik. Ranking satu di sekolah, posisi satu di sebuah perlombaan, juara satu di hati seseorang, adalah beberapa contoh mengapa satu angka yang begitu sakral.

Jika beralih ke sepakbola, nomor satu selalu identik dengan peran penjaga gawang. Seperti sebuah aturan tak tertulis, setiap tim sepakbola akan mempercayakan nomor punggung satu kepada sosok yang ada di bawah mistar gawang tersebut.

Penjaga gawang memang sangat spesial jika dibanding dengan peran-peran pemain lain di sepak bola. Setiap tim boleh tidak memainkan strikernya, tapi jangan harap melihat tim tersebut tampil tanpa sosok penjaga gawang di bawah mistar.

Penjaga gawang juga jadi satu-satunya pemain yang diizinkan menyentuh bola menggunakan tangan. Kecuali Diego Maradona di final Piala Dunia 1986, kamu akan melihat pemain dihadiahi kartu kuning atau bahkan merah jika dengan sengaja menyentuh si kulit bundar dengan tangan.

Selain peran spesialnya, apa yang menjadi dasar utama penjaga gawang selalu menggunakan nomor punggung satu?

Jawabannya hadir pada tahun 1928, tepat saat Arsenal yang diasuh Herbert Chapman bertanding melawan Sheffield Wednesday di First Division. Pertandingan tersebut menjadi sejarah karena untuk pertama kalinya, sebuah kesebelasan sepakbola memakai nomor punggung di setiap pemainnya.

Nomor punggung tersebut diurut berdasarkan posisi dalam formasi 2-3-5 yang saat itu sedang populer. Ketentuannya; Penjaga Gawang (1), full-back kanan (2), full-back kiri (3), right-half (4), center-half (5), left-half (6), outside-right atau penyerang sayap kanan (7), inside-right (8), center-forward atau penyerang tengah (9), inside-left (10), dan outside-left atau penyerang sayap kiri (11).

Pemberian nomor punggung tersebut menjadi terobosan paling revolusioner kala itu. Penonton yang menyaksikan jalannya pertandingan, bisa dengan mudah mengidentifikasi setiap pemain yang berlaga di lapangan.

Pada tahun 1939, FA membuat aturan resmi terkait kewajiban setiap tim di Liga Inggris untuk memberikan nomor punggung 1-11 kepada pemain yang jadi starter.

Meski tak ada aturan pasti yang menentukan nomor punggung mewakili posisi tertentu di lapangan, tapi secara alamiah memunculkan standar jika seorang penjaga gawang akan secara absolut mengenakan nomor punggung satu. Kesepakatan tak tertulis ini nyaris diterima secara universal.

Argentina yang Berani Beda

Karena tak ada aturan baku, tak selamanya pemberian nomor punggung selalu berdasarkan posisi sang pemain. Ambil contoh yang paling terkenal adalah Timnas Argentina di Piala Dunia 1978 dan 1982. Alih-alih mengikuti tren yang ada, Argentina malah memberikan nomor punggung sesuai alfabet.

Akibat ketentuan itu, Ossie Ardilles didapuk menjadi pemain Argentina yang mengenakan nomor punggung satu. Padahal Ardilles tidak berposisi sebagai penjaga gawang.

Namun, dari semua pemain Argentina tersebut, ada satu pemain yang tak mengindahkan aturan nomor punggung. Ia adalah Diego Maradona. Alih-alih memakai nomor punggung 12 sesuai urutan abjad, Maradona diizinkan mengenakan nomor 10 yang dikenal keramat.

Mereka yang Menolak dan Ingin Menjadi Nomor Satu

Saat ini, pemberian nomor punggung sudah lebih fleksibel. Patron tentang nomor punggung harus sesuai posisi pemain mulai ditinggalkan. Banyak penjaga gawang yang tak menginginkan memakai nomor satu dengan berbagai alasan.

Misalnya Rui Patricio yang di Wolves mengenakan nomor 11. Alasannya sebagai bentuk penghormatan kepada penjaga gawang Carl Ikeme yang terkena Leukimia. Atau ada juga Pepe Reina yang identik dengan nomor 25.

Jika ada penjaga gawang yang menolak, uniknya ada pula pemain-pemain outfield yang malah ingin mencicipi nomor punggung satu.

Legenda Belanda, Edgar Davids, pernah mengenakan jersey nomor satu ketika membela Barnet FC di League Two. Alasannya saat itu Davids menjabat sebagai pemain sekaligus pelatih tim.

Simon Vukcevic dipercaya memakai nomor punggung satu oleh FK Partizan di Liga Serbia. Itu merupakan bentuk penghargaan atas popularitasnya di kalangan pendukung Partizan. Kala itu Vukcevic berusia 17 tahun tapi sudah menjadi andalan dan idola fans Partizan.

Di balik sejarahnya yang panjang, satu tetaplah jadi nomor abadi untuk seorang penjaga gawang. Satu bisa jadi bentuk apresiasi tertinggi pada posisi yang wajib dan tak akan pernah terggantikan dalam permainan sepakbola.

***

Kenapa Permainan Sepak Bola Dimainkan 11 vs 11?



Dalam sebuah kesempatan, Garry Lineker pernah melontarkan penyataan menarik. "Sepak bola adalah permainan sederhana, 22 orang mengejar bola selama 90 menit dan pada akhirnya Jerman keluar sebagai pemenang," ujar mantan punggawa Timnas Inggris tersebut.

Bukan tanpa sebab, pasalnya ungkapan yang melegenda hingga sekarang itu ia lontarkan setelah Inggris lagi-lagi kalah dari Jerman pada semi final Piala Dunia 1990 di Italia.

Poin menarik dari ucapan Lineker yang mungkin tak banyak orang pikirkan sebelumnya adalah, mengapa sebuah pertandingan sepak bola harus dimainkan oleh 22 orang yang terbagi dalam dua tim? kenapa satu tim terdiri dari 11 orang? Dari mana aturan itu mulai diberlakukan?

Untuk menjawabnya, mungkin kita perlu mundur jauh ke belakang di mana sepak bola belum ditemukan.

Calcio Fiorentino



Sejarah bermula dari sebuah olahraga bernama Calcio Fiorentino yang sangat populer pada abad ke-16 di Italia. Calcio Fiorentino (atau kini disebut Calcio Storico) merupakan cikal bakal dari sepak bola dan rugbi. Bahkan kata Calcio kemudian diadopsi menjadi istilah sepak bola dalam bahasa Italia.

Setiap tim yang bertanding, terdiri dari....27 orang! di mana terdapat 5 orang yang bertugas sebagai penjaga gawang. Lucunya lagi, olahraga Calcio Fiorentino dimainkan di sebuah lapangan yang luasnya hampir mirip dengan lapangan sepak bola modern. Bisa dibayangkan betapa brutalnya 54 orang beradu untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya.

Sepak bola modern kemudian berkembang di Inggris dengan menetapkan beberapa dasar yang membuat olahraga ini semakin digemari. Namun, belum ada aturan yang jelas terkait jumlah pemain. Biasanya setiap tim terdiri dari 15 sampai 21 orang. Hasilnya tensi pertandingan dan gesekan fisik antar pemian terjadi begitu intens.

Aturan Baku



Perubahan besar datang pada tahun 1879. Regulasi tentang penetapan jumlah pemain mulai diberlakukan. Antara lain, memutuskan bahwa setiap tim wajib memiliki satu penjaga gawang. Diputuskan juga jika harus ada 11 orang dalam satu tim. Bersamaan dengan itu, terjadi pemisahan yang jelas antara olahraga rugby dengan sepak bola (soccer). 

Lantas kenapa harus 11? Seperti kita ketahui, pajang lapangan sepak bola adalah 90 – 120 meter dan lebarnya 45-90 meter. Setelah melewati serangkaian uji coba dan pengamatan, didapatkan jika pergerakan 22 orang di atas lapangan akan lebih leluasa untuk menghindari tekanan lawan yang terlalu intens.

Jika pemain di atas lapangan kurang dari 22 orang, pemain akan cepat lelah. Sedangkan jika lebih dari 22 pemain, maka lapangan akan terasa sempit sehingga para pemain tidak leluasa bergerak.

Ada teori lain terkait alasan penetapan jumlah pemain sepak bola. Para manajer sepak bola kala itu menginginkan olahraga mereka sepopuler atau bahkan lebih populer dari kriket sehingga meniru jumlah pemainnya

Jika memang teori itu benar, maka kepopuleran olah raga sepak bola seperti sekarang mungkin saja karena jumlah pemain setiap timnya.