Flat Earth FC, Bola Memang Bulat tapi Tidak dengan Bumi!




Dalam salah satu video channel YouTube-nya, Deddy Corbuzier mengundang Young Lex untuk berbincang-bincang. Meski Young Lex dikenal sebagai seorang rapper, tapi bukan itu yang jadi tajuk utama pembicaraan. 

Jauh dari obrolan tentang musik, Deddy Corbuzier dan Young Lex berdebat seru tentang teori konspirasi di balik pandemi virus corona. Seru yang saya maksud, karena obrolan tentang teori konspirasi itu jadi bahan diskusi di berbagai media sosial. 

Ada yang percaya jika pandemi corona berasal dari teori konspirasi, ada pula orang-orang yang beranggapan cakap-cakap mereka cumalah omongan sampah. Ya, seperti lazimnya teori konspirasi, pada akhirnya akan selalu menimbulkan perdebatan mana yang benar dan mana yang salah.

Oxford English Dictionary menjelaskan teori konspirasi adalah suatu teori, bahwa kejadian atau gejala timbul sebagai hasil konspirasi antara pihak-pihak yang berkepentingan, dan adanya suatu lembaga yang bertanggungjawab atas kejadian yang tak bisa dijelaskan.

Teori konspirasi memang sudah ada sejak zaman dulu. Momen bersejarah Neil Amstrong menginjakkan kaki di bulan mungkin jadi salah satu teori konspirasi paling seksi yang terus dibahas sampai sekarang. Apalagi berkat kemajuan dunia teknologi, membuat arus informasi makin deras bak pupuk yang menyuburkan macam-macam teori konspirasi.

Jika Deddy Corbuzier dan Young Lex masih mendebatkan teori konspirasi di internet, Javi Poves memilih jalan yang lebih ekstream. Kepercayaannya terhadap teori bumi datar, mendorongnya membentuk sebuah tim sepak bola bernama...... Flat Earth FC!

Sepak Terjang Javi Poves 




Sebelum jauh membahas Flat Earth FC, mari kita cari tahu dulu siapa Javi Poves. Ia termasuk pesepak bola muda yang menjanjikan. Tumbuh besar di kota Madrid, Poves menimba ilmu di akademi sepak bola Atletico Madrid dan Rayo Vallecano sebelum akhirnya direkrut Sporting Gijon. 

Pemain yang berposisi sebagai bek tengah itu menjalani debut di La Liga dalam pertandingan terakhir musim 2010-2011. Ia lalu memilih pensiun dini setelah cuma menjalani satu pertandingan itu bersama Sporting Gijon. Usianya baru 23 tahun kala itu.

Idealisme dalam diri Javi Poves yang membuatnya pergi meninggalkan sepak bola. "Apa yang saya lihat semakin jelas. Sepak bola profesional hanyalah tentang uang dan korupsi. Ini kapitalisme, dan kapitalisme adalah kematian," ucap Poves. 

"Saya tidak ingin menjadi bagian dari sistem yang didasarkan pada orang yang menghasilkan uang dengan mengorbankan kematian orang lain di Amerika Selatan, Afrika dan Asia. Sederhananya, hati nurani saya tidak akan membiarkan saya melanjutkan ini," lanjutnya.

Javi Poves meninggalkan sepak bola sehingga bisa menjalani kehidupan yang "bersih". Ia memutuskan berkeliling dunia. Poves tidak bisa menerima bagaimana sistem kapitalis bekerja dalam industri sepak bola, namun ia tak naif tentang bagaimana uang bekerja. 

Dia mengatur keuangannya dengan menggunakan 1.000 Euro per bulan yang dia dapatkan dari menyewakan apartemen di Madrid sehingga bisa membiayai perjalannya.

Javi Poves menghabiskan lima tahun hidup di sudut paling tidak jelas di dunia, termasuk Iran, Venezuela, Kyoto, Novosibirsk, Buenos Aires, hingga Senegal di mana ia terjangkit malaria.

Kembali ke Sepak Bola




Sejauh-jauhnya ia berpergian, ternyata tak bisa mengalahkan cintanya terhadap sepak bola. Poves kembali ke sepakbola bersama klub SS Reyes sebelum akhirnya menemukan CD Móstoles, sebuah klub yang bermarkas di 15 mil selatan pusat kota Madrid. 

Poves dipilih sebagai presiden klub tahun 2016 dan sukses membawa klub promosi ke Divisi Empat Liga Spanyol musim lalu. Di tengah popularitas klub yang terus meningkat, Poves mengambil keputsan untuk me-rebranding jati diri klub. Bukan sekadar rebranding, Poves mengubah nama klub menjadi Flat Earth FC!

Pemilihan nama Flat Earth FC memang bukan tanpa sebab. Poves percaya sepak bola bisa jadi kendaraan tepat baginya untuk mengkampanyekan teori bumi datar.

"Kami adalah klub sepak bola profesional dari Tercera Division di Spanyol. Kami dilahirkan untuk menyatukan suara jutaan pengikut gerakan bumi datar dan semua orang yang mencari jawaban dan kebenaran yang sejati (tentang bentuk bumi)," kata Poves, dilansir Marca.

Logo klub kini berganti menjadi bentuk bumi yang well....datar! Untuk maskot? Seorang astronot! Konspirasi tentang perjalanan manusia ke bulan mungkin jadi alasannya.

Flat Earth FC kini bukan cuma klub kasta keempat di sepak bola Spanyol saja. Sebabnya, mereka punya basis fans yang tersebar di seluruh dunia yang disatukan karena kepercayaan bumi datar. "Sungguh luar biasa menjadi bagian dari gerakan hebat ini," kata salah satu pemain Flat Earth, Mario Cardete, yang dikutip dari The Guardian.

Sepak bola kini bukan lagi sekadar gerakan politik seperti di era Benito Mussolini. Bukan juga sekadar wadah kaum kelas pekerja menyuarakan aspirasinya. Kini sepak bola sudah jadi bagian kampanye konspirasi hebat dalam diri Flat Earth FC!

Alban Lafont, Harapan Bawah Mistar Perancis!



28 November 2015, Toulouse menjamu OGC Nice di Stade Municipal. Tim tuan rumah sedang dalam kondisi terpuruk. Toulouse berada di urutan ke-19 klasemen sementara Liga Prancis dengan perolehan  9 poin dari 14 pertandingan. Belum lagi mereka cuma bisa meraih satu kemenangan serta 12 kali kebobolan. Berbagai catatan buruk itu, membuat tim asuhan Dominique Arribagé tak diunggulkan.

Alih-alih memainkan tim terbaiknya, Dominique Arribagé malah membuat ekperimen gila. Dua pemain akademi dipercaya menjalani debutnya saat itu. Issa Diop (18 tahun) mengisi posisi bek tengah dan Alban Lafont (16 tahun) berdiri di bawah mistar. Kehadiran keduanya mungkin bisa disebut sebagai "Youngest Defensive Duo" yang pernah ada di Liga Prancis.

Bagi Alban Lafont, itu bukanlah debut yang biasa. Di usia 16 tahun 310 hari, ia mencatatkan rekor sebagai kiper temuda di Liga Prancis mengalahkan Mickaël Landreau. Lebih spesial lagi, Lafont mampu mempertahankan gawangnya tidak kebobolan yang membuat Toulouse menang 2-0 atas OGC Nice. Di pertandingan selanjutnya, Alban Lafont kembali buktikan kemampuan. Melawan Troyes, Lafont mencatatkan nir bobol sekaligus membantu Toulouse menang 3-0. 

Sampai akhir musim 2015-2016, kiper kelahiran Burkina Faso itu dipercaya mengawal gawang Toulouse dalam 24 pertandingan serta meraih 8 kali nir bobol. Toulouse pun berhasil lolos dari zona degradasi pada pertandingan pamungkas.

Bagi para penggemar game virutal Football Manager, Alban Lafont tentunya bukanlah nama yang asing. Dalam seri Football Manager beberapa tahun terkahir, Alban Lafont selalu muncul sebagai pemain muda atau wonderkid dengan statistik mengkilap yang wajib dimiliki oleh para manager. 

Menjanjikan Sejak Muda



Alban Marc Lafont lahir di Ouagadougou, ibukota Burkina Faso pada 23 Januari 1999 dari ayah Prancis dan ibu Burkina Faso. Setelah orang tuanya bercerai, Lafont hijrah ke Prancis bersama sang ayah. Di sana, ia bergabung bersama akademi sepak bola amatir AS Lattoise pada tahun 2008. Awalnya Lafont berposisi sebagai gelandang serang sebelum akhirnya berpindah posisi menjadi seorang penjaga gawang. Dia menghabiskan waktu enam tahun sebelum direkrut oleh Toulouse pada 2014.

Musim pertamanya bersama Toulouse bisa dibilang sebagai pembuktian kelahiran calon bintang masa depan sepak bola. Bakat Lafont pun diakui oleh media terkemuka La Gazzetta dello Sport. Alban Lafont berada diurutan ke-34 sebagai "Pemain Terbaik di Bawah 20 Tahun" menurut media asal Italia tersebut. Lafont jadi satu-satunya kiper yang masuk daftar tersebut selain kiper AC Milan, Gianluigi Donnarumma.

Pada Februari 2018, Alban Lafont dinobatkan oleh CIES Football Observatory sebagai pemain sepak bola paling menjanjikan di bawah 20 tahun setelah Gianluigi Donnarumma. Alban Lafont mengalahkan Kylian Mpabbe yang berada di posisi ketiga.

Penampilan cemerlang Lafont bersama Toulouse pun turut mendapat banyak pujian, salah satunya berasal dari kiper legendaris Prancis Mickael Landreau. "Saya suka ketenangannya. Alban membuat keputusan dalam menghalau tembakan yang brilian dan posisinya sangat bagus. Karier yang hebat akan ia dapatnya," ujar pria yang sempat membela Nantes, PSG, dan Lille tersebut.

Alban Lafont dibekali postur tubuh tinggi. Membuatnya cukup piawai menghadang bola-bola atas. Kepercayaan diri yang dimilikinya pun menjadi modal besar saat berhadapan 1 lawan 1 dengan striker lawan. Namun satu hal yang membuat Lafont disebut-sebut sebagai kiper berbakat di generasi sekarang adalah refleksnya dalam membaca arah bola.

Salah satu penampilan gemilangnya bisa dilihat ketika Toulouse berhadapan dengan PSG. Edison Cavani dibuat mati kutu oleh Lafont. Pasanyal, dua kali Lafont melakukan penyelamatan dari blank spot hasil kreasi Cavani.

Petualangan di Italia



Seperti halnya para pemian muda di Liga Prancis, bakat Alban Lafont banyak menarik minta klub-klub top Eropa yang getol memburu calon bintang. Arsenal jadi salah satu klub yang kepicut. Meriam London memang sedang mengincar pemain yang berada di pos penjaga gawang sebagai penerus Petr Cech yang kala itu segera pensiun.

Bagi para pemain muda asal Prancis, Arsenal bisa dibilang sebagai tempat berlabuh yang tepat untuk mengasah kemampuan. Tak terhitung sudah berapa banyak bintang-bintang besar Prancis yang mekar bersama Meriam London. Sebut saja Patrick Vierra, Thierry Henry, Robert Pires, sampai yang paling anyar Matteo Guendouzi. Tak tekecuali dengan Alban Lafont yang punya keinginan kuat membela klub top Eropa.

Nasib berkata lain. Alih-alih pergi ke Inggris, Lafont pada akhirnya berlabuh di kota Florence. Fiorentina berhasil mendatangkan pemain Prancis tersebut dengan tranfers 8,5 juta euro atau setara 142 miliar rupiah pada Juli 2018. Fiorentina yang baru saja kehilangan Marco Sportiello, menjanjikan Alban Lafont tempat utama di bawah mistar gawang Artemio Franchi.

Kedatangan Alban Lafont membuat Serie A semakin menarik. Ini bisa jadi ajang pembuktian dua kiper muda berbakat. Pasalnya, Serie A sudah memiliki salah satu kiper muda paling menjanjikan dalam diri Gianluigi Donnarumma. Sejak menjalani debutnya sebagai pesepakbola profesional, dua nama kiper ini memang diprediksi akan jadi pemain masa depan. Bedanya Donnaruma mendapatkan spotlight lebih besar mengingat ia sudah bermain bersama AC Milan dan Timnas Italia.

Sayangnya, kehidupan Lafont di Italia tak berjalan manis. Meski selalu jadi pilihan utama di bawah mistar gawang Fiorentina,  Lafont belum bisa menunjukkan kemampuan terbaik seperti yang ia lakukan bersama Toulouse. Dari 34 pertandingan, Lafont hanya mencatatkan 9 kali nir bobol serta 40 kali kebobolan. Penampilan impresif Bartlomiej Dragowski yang dipinjamkan Fiorentina ke Empoli pun makin mengancam posisi Lafont.

Musim 2019-2020, Fiorentina meminjamkan Alban Lafont ke Nantes selama dua tahun dengan opsi pembelian. "Sejujurnya, saya sangat senang berada di Florence. Itu adalah kota yang indah dan selalu ada di hati saya. Saya merasa petualangan saya di sini sudah berakhir," ujar Lafont dikutip dari Firenzeviola.it.

"Sebenarnya, kembali ke Prancis bukanlah pilihan utama. Saya lebih ingin mencari pengalaman lain. Tapi pada akhirnya, saya memutuskan kembali ke Prancis di mana saya menunjukkan performa terbaik," lanjut Lafont.

Kini Alban Lafont kembali memulai petualangannya di Nantes, Prancis. Memulai kembali membangun reputasinya sebagai kiper paling menjanjikan di dunia.