Mengamini Keputusan Spurs Mendatangkan Joe Hart

Tottenham Hotspur bergerak cepat di bursa transfer sejauh ini. Dua nama telah resmi merapat ke White Hart Lane. Pertama adalah Pierre-Emile Hojbjerg yang didatangkan dari Southampton dengan bandrol 15 juta euro. Pemain berikutnya merupakan mantan penjaga gawang Timnas Inggris, Joe Hart.

Dibanding Pierre-Emile Hojbjerg, keputusan Spurs merekrut Joe Hart dari Burnley menimbulkan tanda tanya besar. Meski dibeli dengan cuma-cuma, tapi penjaga gawang yang kini berusia 33 tahun tersebut dianggap telah habis. Musim terakhirnya di Burnley, Joe Hart cuma bermain sebanyak tiga kali. Semuanya terjadi di Piala Liga. 

Joe Hart gagal beradaptasi sebagai Sweeper-Keeper dalam skema taktik Tiki-Taka semenjak kedatangan Pep Guardiola di Manchester City tahun 2016. Sweeper-Keeper diberikan tanggung jawab untuk jadi opsi bagi pemain bertahan ketika melakukan build-up serangan. Ketenangan, akurasi operan, dan visi bermain jadi syarat mutlak yang dibutuhkan seorang Sweeper-Keeper. Sayangnya tiga elemen itu tidak ada dalam diri Joe Hart.

Terpinggirkan oleh Pep, Joe Hart lantas dipinjamkan ke Torino dan West Ham United, sebelum akhirnya membela Burnley selama dua musim terakhir. Pertandingan terakhirnya di Premier League terjadi pada Boxing Day 2018. Kala itu Burnley dihajar Everton 5-1.

Kariernya di timnas pun tak berjalan baik. Menjadi pilihan pertama di bawah mistar gawang Inggris kala mengarungi Euro 2016, Joe Hart tidak lagi jadi bagian skuat The Three Lions pada Piala Dunia 2018. 

Lantas, kenapa Tottenham Hotspur sampai mau mendatangkan Joe Hart? Jika ada satu orang yang perlu menjawab pertanyaan tersebut, ia adalah Jose Mourinho. 

Seperti dikutip dari The Athletic, Jose Mourinho cukup tertarik dengan kepribadian sang penjaga gawang. Bahkan pada tahun 2017, Mourinho berniat membawa Hart ke Old Trafford.

Harry Kane dan Dele Alli yang notabene adalah rekan Joe Hart di Timnas Inggris pun mengagumi kepribadiannya. Meski performanya di atas lapangan terus menurun, tapi Joe Hart tetap dianggap salah satu figur paling dihormati bagi rekan-rekannya. Diharapkan kedatangan Joe Hart di Tottenham Hotspur pun bisa jadi panutan bagi para pemain muda. 

Peran ini jugalah yang Joe Hart lakukan saat membela Burnley. Sean Dyche memuji tingkat keprofesionalan Hart ketika berlatih, meskipun ia cuma didapuk jadi kiper cadangan. 

Nick Pope belajar banyak darinya. Para staf klub terkesan terhadap cara Hart membantu kiper muda klub, seperti Bailey Peacock-Farrell dan Lukas Jensen, dengan menawarkan bimbingan kepada mereka.

Bersama Mourinho, Hart pun tak perlu khawatir perilah gaya main. Dibanding dengan klub top six lainnya, Spurs di bawah asuhan Mourinho bermain lebih direct dan pragmatis alih-alih harus melakukans build up serangan dari bawah seperti Manchester City atau Liverpool.

Salah satu faktor lain yang membuat kedatangan Joe Hart cukup tepat untuk Tottenham Hotspur adalah statusnya sebagai pemain Inggris. Dengan kata lain, Joe Hart bisa didaftarkan sebagai homegrown player.

Premier League memiliki aturan khusus supaya klub hanya boleh memiliki maksimal 17 pemain asing dari 25 pemain yang didaftarkan. Aturan ini yang membuat Spurs hanya mendaftarkan 20 pemain saja (kecuali pemain di bawah usia 21 tahun) pada Februari lalu. Spurs cuma punya 4 homegrown player kala itu (Kane, Dele, Harry Winks dan Ben Davies)

Premier League mendefinisikan homegrown player adalah pemain berusia 21 tahun atau lebih yang telah menghabiskan tiga musim kariernya di usia 16 - 21 tahun di kancah persepakbolaan Inggris atau Wales. Hal inilah yang membuat Eric Dier tidak masuk hitungan homegrown player karena masa mudanya dihabiskan di Portugal.

Hadirnya Hart sebagai homegrown player dan perginya sejumlah pemain asing seperti Jan Vertonghen, Victor Wanyama, dan Michael Vorm (kiper ketiga) membuat Spurs memiliki jatah untuk menambah pemain asing untuk didaftarkan. 

Mourinho tentu tak ingin menyia-nyiakan slot pemain asing kepada kiper cadangan ketiga yang jarang bermain. 

Spurs pun bukan tim pertama yang memilih mendatangkan penjaga gawang uzur yang berstatus homegrown player untuk jadi pilihan ketiga di bawah mistar.

Musim lalu Manchester City meminjam Scott Carson yang berusia 34 tahun dari Derby County. Chelsea pun melakukan hal serupa dua musim lalu dengan merekrut Robert Green yang kini sudah memasuki kepala empat.

Meski hanya diplot sebagai penjaga gawang ketiga setelah Hugo Lloris dan Paulo Gazzaniga, tapi pengalaman, kepribadian, dan statusnya sebagai homegrown player jadi faktor-faktor yang bikin keputusan Spurs mendatangkan Joe Hart cukup masuk akal. 

Mengulik Para Pengusik Kepa Arrizabalaga di Bawah Mistar Chelsea

Publik dibuat tercengang sesaat setelah Liverpool meresmikan pembelian Alisson Becker dari AS Roma. Bukan tanpa sebab, pasalnya Alisson didaulat sebagai pembelian kiper termahal sepanjang sejarah kala itu dengan bandrol 75 juta euro. 

Nada skeptis langsung mencuat karena Liverpool sangat berani mengeluarkan biaya besar hanya untuk seorang penjaga gawang. Umumnya, para striker atau playmaker yang selalu dapat porsi lebih besar ketika sesi transfer dibuka.

Namun, keterkejutan publik sepakbola terhadap transfer Alisson Becker segara teralihkan kala Chelsea merampungkan proses kepindahan Kepa Arrizabalaga dari Athletic Bilbao senilai 80 juta euro. Angka tersebut menjadikan Kepa Arrizabalaga sebagai kiper termahal di dunia sepanjang sejarah.

Sebagai suksesor Thibaut Curtois yang baru hijrah ke Real Madrid, tentu membuat publik Stamford Bridge menaruh ekspektasi tinggi terhadap Kepa. Apalagi ditambah dengan statusnya sebagai kiper termahal di dunia.

Di saat Alisson Becker menjadi bintang Liverpool dengan gelar Liga Champions dan Premier League, Kepa Arrizabalaga malah jadi pesakitan di bawah mistar Chelsea. Dua tahun berseragam The Blues, kritik pedas terus dilayangkan kepada pria kelahiran Basque tersebut. Bahkan di musim pertamanya, Kepa sempat bersitegang dengan Maurizio Sarri karena menolak diganti. 

Mengutip Daily Mail, Kepa Arrizabalaga memiliki statistik terburuk di antara para penjaga gawang di lima liga top Eropa. Dari 98 kiper yang telah bermain selama minimal 1.500 menit di Eropa, persentase penyelamatan Kepa hanyalah 54,5 persen. Angka itu didapat setelah hanya bisa menyelamatkan 55 dari 99 tembakan  yang mengarah kepadanya.

Bandingkan beberapa kiper top lain seperti Hugo Lloris (80,2%) atau David de Gea (74,2%) yang musim ini kerap membuat blunder.

Frank Lampard tak tinggal diam melihat lini belakangnya jadi kelemahan yang terus dimanfaatkan para lawan Chelsea. Setelah sukses merekrut Hakim Ziyech dan Timo Werner, bidikan Lampard selanjutnya di bursa transfer tentu saja posisi penjaga gawang.

Beberapa nama sudah mulai muncul ke publik untuk mengusik posisi Kepa Arrizabalaga di bawah mistar gawang Chelsea.

Berikut nama-nama penjaga gawang terbaik yang bisa saja di musim depan akan berbaju The Blues:

1. Andre Onana

Ajax Amsterdam seolah tak pernah kehabisan talenta-talenta muda. Setelah musim lalu mereka melepas Matthijs de Ligt ke Juventus dan Frankie de Jong ke Barcelona, kini nama Andre Onana yang santer terdengar bakal dilego.

Pemain kelahiran Kamerun ini menjadi kiper dengan prospek cerah di Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Onana menjadi bagian penting kala Ajax menembus babak semifinal Liga Champions dua musim lalu dan mengantarkan Ajax juara Liga Belanda musim ini.

Dana 26 juta poundsterling jadi syarat bagi Chelsea untuk mendapatkan kiper berusia 24 tahun tersebut.

2. Nick Pope

Sejak zaman dulu, Inggris bisa dibilang cukup sulit menelurkan kiper-kiper hebat. Anomali pada musim ini, beberapa kiper Inggris nyatanya mampu membuktikan kemampuan. Salah satunya adalah Nick Pope. Sejak bergabung dengan Burnley dari Charlton Athletic pada tahun 2016, Pope berkembang jadi salah satu kiper terhebat di Liga Inggris.

Di musim ini, Pope mampu 15 kali menjaga gawangnya tetap perawan. Ia hanya kalah dari Ederson yang mencatatkan 16 nir bobol bersama Manchester City.

Mengutip dari Transfer Market, nilai Nick Pope di pasaran sekitar 12 juta euro. Bukan uang yang cukup banyak untuk klub sekelas Chelsea.

3. Dean Henderson

Satu lagi kiper Inggris yang mencuri perhatian di Premier League musim ini. Meski hanya membela klub promosi Sheffield United, tapi tak membuat pijar Dean Henderson memudar. Mengemas 13 kali nir bobol jadi bukti sahih kepiawaian Dean Henderson di bawah mistar gawang.

Peluang Chelsea menggaet Dean Henderson pun cukup besar, mengingat ia berstatus pemain pinjaman dari Manchester United. Andai Henderson memilih kembali ke Old Trafford, kemungkinan ia cuma jadi pelapis David de Gea saja.

4. Jan Oblak

Andai Chelsea menginginkan penjaga gawang yang kualitasnya sudah teruji di Eropa, nama Jan Oblak adalah pilihannya. Empat kali didaulat sebagai kiper terbaik di Liga Spanyol jadi bukti nyata bagaimana terampilnya Jan Oblak di bawah mistar gawang.

Sayang, untuk mendatangkan kiper Polandia tersebut tidak mudah. Tak kurang biaya 100 juta euro plus Kepa Arrizabalaga konon jadi mahar memboyong Jan Oblak ke London.

5. Marc-Andre ter Stegen

Ter Stegen masih menyisakan dua tahun kontraknya bersama Barcelona. Namun, tak menutup kemungkinan jika Chelsea bisa merekrutnya di musim ini. Apalagi kondisi internal Barcelona sedang tidak baik akibat konflik antara jajaran manajer dan para pemain.

Andai Ter Stegen mau berlabuh ke London, Chelsea akan jadi kekuatan besar yang berpeluang mengganggu dominasi Liverpool dan Manchester City di Liga Inggris.