Lika-liku Karier Julen Lopetegui

Apa persamaan antara Pep Guardiola, Zinedine Zidane, Antonio Conte dan Johan Cruyff? Mereka merupakan deretan pelatih top yang meniti karier sepakbolanya sebagai seorang gelandang. Mereka yang berposisi di lini tengah permainan, dianggap lebih mengerti bagaimana mengatur ritme bermain, baik itu saat menyerang atau bertahan. Mereka dibekali visi bermain, membaca taktik permainan, dan kepemimpinan yang diperlukan sebagai modal menjadi pelatih hebat. 

Namun, tak melulu hanya para gelandang yang sukses sebagai pelatih. Meski minor, pemain yang notabene eks penjaga gawang pun bisa buktikan diri menahkodai tim di level tinggi. Coba saja tanyakan pada Julen Lopetegui.

Final Liga Eropa 2019/2020 mempertemukan Sevilla vs Inter Milan di Stadion RheinEnergie, Jerman, pada Sabtu (22/8/2020) dini hari WIB. Bagi Sevilla, ini adalah kali ke-6 mereka bisa merasakan final di turnamen "kelas dua" Eropa ini. 

Jika melihat susunan skuat yang dimiliki kedua tim, Inter Milan memiliki keuntungan. Mulai dari penjaga gawang sampai barisan penyerangan diisi oleh deretan pemain bintang yang kenyang pengalaman. Namun, itu tak membuat Sevilla gentar. Julen Lopetegui berhasil meramu strategi brilian untuk meredam kekuatan Il Nerazzurri.

Memainkan skema 4-3-3, Julen Lopetegui coba memaksimalkan peran full back-nya (Jesus Navas dan Sergio Reguilon) dalam menyisir area sisi Inter Milan. Lopetegui melihat titik lemah formasi 3-5-2 Inter Milan asuhan Antonio Conte. Dalam formasi tersebut, Ashley Young dan D'Ambrosio yang diplot sebagai wing back kerap membuat celah yang bisa dieksploitasi.

Kombinasi Reguilon dan Ocampos di sisi kiri Sevilla serta Navas dan Suso di kanan benar-benar merepotkan kedua wingback Inter. Tak aneh, jika Ashley Young dan D'Ambrosio cuma mendapat rating 6,2 dan 5,6 menurut whoscored, membuktikan bagaimana sayap-sayap lincah Sevilla sangat efisien meneror pertahanan Inter Milan. 

Julen Lopetegui pun coba memaksimalkan set-piece. Apalagi Sevilla memiliki Ever Banega yang punya kualitas mengeksekusi bola-bola mati. Hal ini juga yang mendasari kenapa Julen Lopetegui memilih Luuk de Jong sebagai ujung tombak dibanding En-Nesyri. De Jong memiliki keunggulan dalam duel bola-bola udara.

Semua strategi Julen Lopetegui itu terbayarkan. Meski harus tertinggal 1-0 akibat penalti Romelu Lukaku, Sevilla mampu bangkit. Gol pertama Sevilla tercipta berkat pergerakan Jesus Navas di sisi kiri pertahanan Inter Milan. Mantan pemain Manchester City ini mengirimkan umpan silang yang berhasil diselesaikan oleh Luuk de Jong dengan sundulan.

Gol kedua Sevilla bermula dari skema set-piece. Umpan manis Ever Banega ke tiang jauh, disambut oleh Luuk de Jong yang berdiri bebas. Skema set-piece lagi-lagi jadi andalan anak asuh Julen Lopetegui. Gol pamungkas sekaligus penentu kemenangan berawal dari tendangan bebas Ever Banega di sisi kiri pertahanan Inter Milan. Diego Carlos berhasil menyambut bola liar dengan tendangan salto. 

Sevilla 3-2 Inter Milan. Sevilla memastikan gelar ke-6 Liga Eropa. Bagi Julen Lopetegui ini adalah piala pertamanya sebagai pelatih klub profesional

Lika-liku Karier Lopetegui



Sebagai seorang pemain, Julen Lopetegui bisa dibilang pemain yang biasa-biasa saja. Ditempa di Castilla (Tim B Real Madrid), pria kelahiran Asteasu ini cuma sekali dipercaya mengawal gawang Real Madrid. Lopetegui baru bisa menjadi pilihan utama di klub semenjana seperti Logrones tahun 1991-1994 dan Rayo Vallecano 1997-2001. Ia juga pernah membela Barcelona di musim 1994-1997 dengan mengemas 5 caps.

Tak terlalu sukses sebagai pemain, tak membuat Lopetegui menyerah. Pasca pensiun, Lopetegui dipercaya menjadi asisten pelatih Timnas Spanyol U-17 tahun 2003. Di tahun yang sama, ia kemudian ditunjuk menangani Rayo Vallecano di divisi dua Liga Spanyol. Sayang, debut kepelatihan bersama klub profesional berjalan singkat. Lopetegui cuma menjalani 10 laga saja sebelum akhirnya dipecat akibat hasil buruk yang membuat Rayo Vallecano degradasi ke Divisi Tiga.

Sejak tahun 2010 sampai 2014, Julen Lopetegui melatih Timnas Spanyol di berbagai level usia. Mulai dari U19, U20, dan U21. Ia berhasil mempersembahkan gelar Piala Eropa U19 tahun 2012 dan Piala Eropa U21 tahun 2013. Nama-nama populer seperti David de Gea, Isco, Koke, Thiago Alcantara, dan Alvaro Morata adalah contoh polesan tangan dingin Lopetegui saat menukangi Spanyol U21.

Tahun 2014, ia dipercaya melatih klub raksasa Portugal, FC Porto. Selama dua tahun, ia gagal mempersembahkan satu pun trofi untuk publik Do Dragao.

Sukses bersama tim junior Spanyol, Julen Lopetegui akhirnya dipercaya menukangi Timnas Spanyol senior pada tahun 2016. Tugas utamanya adalah membawa Spanyol lolos ke Piala Dunia 2018. Tergabung di Grup G, Spanyol lolos dengan catatan nyaris sempurna. Meraih 9 kemenangan dari 10 pertandingan

Konflik Spanyol - Real Madrid


Selepas kepergian Zinedine Zidane, Real Madrid sedang gencar berburu pelatih baru. Gaya main Julen Lopetegui di Spanyol membuat Real Madrid kepincut membawanya ke Santiago Bernabeu. Di sinilah bencana besar dimulai.

Di tengah persiapan Timnas Spanyol jelang tampil di Piala Dunia 2018, ia memutuskan akan menangani Real Madrid pada musim 2018/2019. Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF) tidak puas dengan apa yang dilakukan oleh Lopetegui, karena dianggap mengganggu persiapan La Furia Roja. RFEF memutuskan memecat Julen Lopetegui dua hari sebelum kick off Piala Dunia 2018.

Di Real Madrid sendiri, Julen Lopetegui gagal menjiplak kesuksesannya bersama Timnas Spanyol. Dari 14 pertandingan, ia cuma bisa membawa Madrid menang 6 kali, imbang 2 kali, dan kalah 2 kali. Alhasil, ia dipecat pada Oktober 2018.

Bangkit Bersama Sevilla


Gagal kala menukangi klub seperti Rayo Vallecano, Porto dan Real Madrid, tak membuat karier kepelatihan Julen Lopetegui hancur. Juni 2019, Sevilla menunjuk Lopetegui sebagai nahkoda baru. Ini menjadi kesempatan baru bagi Lopetegui untuk membuktikan kepiawaiannya meramu taktik.

Untuk membangun skuat yang ideal dalam skema 4-3-3, Lopetegui bergerak cepat di bursa transfer. Nemanja Gudelj, Fernando, Jules Kounde, Sergio Reguilon, Lucas Ocampos, Luuk de Jong, dan Diego Carlos adalah deretan pemain yang resmi didatangkan. 

Mereka juga lah yang jadi bagian integral penting Sevilla meraih peringkat 4 klasemen Liga Spanyol musim ini. Malah Luuk de Jong dan Diego Carlos mampu menyumbang gol di final Liga Eropa melawan Inter Milan.

Setelah sukses meraih trofi pertamanya bersama klub profesional, menjadi pembuktian Julen Lopetegui sebagai seorang pelatih yang layak diperhitungkan. Ia juga sekaligus bisa menepis stigma jika mantan penjaga gawang pun bisa berprestasi ketika didaulat sebagai juru taktik

***

The Goalie adalah rubrik khusus untuk mengapresiasi para penjaga gawang yang perannya kadang terlupakan. Para sosok yang terpilih dalam rubrik The Goalie didasarkan pada performa di lapangan atau punya kisah menarik lain yang tak banyak diketahui. Nantikan rubrik The Goalie selanjutnya di website bawahmistar.com


Mengulik Para Pengusik Kepa Arrizabalaga di Bawah Mistar Chelsea

Publik dibuat tercengang sesaat setelah Liverpool meresmikan pembelian Alisson Becker dari AS Roma. Bukan tanpa sebab, pasalnya Alisson didaulat sebagai pembelian kiper termahal sepanjang sejarah kala itu dengan bandrol 75 juta euro. 

Nada skeptis langsung mencuat karena Liverpool sangat berani mengeluarkan biaya besar hanya untuk seorang penjaga gawang. Umumnya, para striker atau playmaker yang selalu dapat porsi lebih besar ketika sesi transfer dibuka.

Namun, keterkejutan publik sepakbola terhadap transfer Alisson Becker segara teralihkan kala Chelsea merampungkan proses kepindahan Kepa Arrizabalaga dari Athletic Bilbao senilai 80 juta euro. Angka tersebut menjadikan Kepa Arrizabalaga sebagai kiper termahal di dunia sepanjang sejarah.

Sebagai suksesor Thibaut Curtois yang baru hijrah ke Real Madrid, tentu membuat publik Stamford Bridge menaruh ekspektasi tinggi terhadap Kepa. Apalagi ditambah dengan statusnya sebagai kiper termahal di dunia.

Di saat Alisson Becker menjadi bintang Liverpool dengan gelar Liga Champions dan Premier League, Kepa Arrizabalaga malah jadi pesakitan di bawah mistar Chelsea. Dua tahun berseragam The Blues, kritik pedas terus dilayangkan kepada pria kelahiran Basque tersebut. Bahkan di musim pertamanya, Kepa sempat bersitegang dengan Maurizio Sarri karena menolak diganti. 

Mengutip Daily Mail, Kepa Arrizabalaga memiliki statistik terburuk di antara para penjaga gawang di lima liga top Eropa. Dari 98 kiper yang telah bermain selama minimal 1.500 menit di Eropa, persentase penyelamatan Kepa hanyalah 54,5 persen. Angka itu didapat setelah hanya bisa menyelamatkan 55 dari 99 tembakan  yang mengarah kepadanya.

Bandingkan beberapa kiper top lain seperti Hugo Lloris (80,2%) atau David de Gea (74,2%) yang musim ini kerap membuat blunder.

Frank Lampard tak tinggal diam melihat lini belakangnya jadi kelemahan yang terus dimanfaatkan para lawan Chelsea. Setelah sukses merekrut Hakim Ziyech dan Timo Werner, bidikan Lampard selanjutnya di bursa transfer tentu saja posisi penjaga gawang.

Beberapa nama sudah mulai muncul ke publik untuk mengusik posisi Kepa Arrizabalaga di bawah mistar gawang Chelsea.

Berikut nama-nama penjaga gawang terbaik yang bisa saja di musim depan akan berbaju The Blues:

1. Andre Onana

Ajax Amsterdam seolah tak pernah kehabisan talenta-talenta muda. Setelah musim lalu mereka melepas Matthijs de Ligt ke Juventus dan Frankie de Jong ke Barcelona, kini nama Andre Onana yang santer terdengar bakal dilego.

Pemain kelahiran Kamerun ini menjadi kiper dengan prospek cerah di Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Onana menjadi bagian penting kala Ajax menembus babak semifinal Liga Champions dua musim lalu dan mengantarkan Ajax juara Liga Belanda musim ini.

Dana 26 juta poundsterling jadi syarat bagi Chelsea untuk mendapatkan kiper berusia 24 tahun tersebut.

2. Nick Pope

Sejak zaman dulu, Inggris bisa dibilang cukup sulit menelurkan kiper-kiper hebat. Anomali pada musim ini, beberapa kiper Inggris nyatanya mampu membuktikan kemampuan. Salah satunya adalah Nick Pope. Sejak bergabung dengan Burnley dari Charlton Athletic pada tahun 2016, Pope berkembang jadi salah satu kiper terhebat di Liga Inggris.

Di musim ini, Pope mampu 15 kali menjaga gawangnya tetap perawan. Ia hanya kalah dari Ederson yang mencatatkan 16 nir bobol bersama Manchester City.

Mengutip dari Transfer Market, nilai Nick Pope di pasaran sekitar 12 juta euro. Bukan uang yang cukup banyak untuk klub sekelas Chelsea.

3. Dean Henderson

Satu lagi kiper Inggris yang mencuri perhatian di Premier League musim ini. Meski hanya membela klub promosi Sheffield United, tapi tak membuat pijar Dean Henderson memudar. Mengemas 13 kali nir bobol jadi bukti sahih kepiawaian Dean Henderson di bawah mistar gawang.

Peluang Chelsea menggaet Dean Henderson pun cukup besar, mengingat ia berstatus pemain pinjaman dari Manchester United. Andai Henderson memilih kembali ke Old Trafford, kemungkinan ia cuma jadi pelapis David de Gea saja.

4. Jan Oblak

Andai Chelsea menginginkan penjaga gawang yang kualitasnya sudah teruji di Eropa, nama Jan Oblak adalah pilihannya. Empat kali didaulat sebagai kiper terbaik di Liga Spanyol jadi bukti nyata bagaimana terampilnya Jan Oblak di bawah mistar gawang.

Sayang, untuk mendatangkan kiper Polandia tersebut tidak mudah. Tak kurang biaya 100 juta euro plus Kepa Arrizabalaga konon jadi mahar memboyong Jan Oblak ke London.

5. Marc-Andre ter Stegen

Ter Stegen masih menyisakan dua tahun kontraknya bersama Barcelona. Namun, tak menutup kemungkinan jika Chelsea bisa merekrutnya di musim ini. Apalagi kondisi internal Barcelona sedang tidak baik akibat konflik antara jajaran manajer dan para pemain.

Andai Ter Stegen mau berlabuh ke London, Chelsea akan jadi kekuatan besar yang berpeluang mengganggu dominasi Liverpool dan Manchester City di Liga Inggris.

Alban Lafont, Harapan Bawah Mistar Perancis!



28 November 2015, Toulouse menjamu OGC Nice di Stade Municipal. Tim tuan rumah sedang dalam kondisi terpuruk. Toulouse berada di urutan ke-19 klasemen sementara Liga Prancis dengan perolehan  9 poin dari 14 pertandingan. Belum lagi mereka cuma bisa meraih satu kemenangan serta 12 kali kebobolan. Berbagai catatan buruk itu, membuat tim asuhan Dominique Arribagé tak diunggulkan.

Alih-alih memainkan tim terbaiknya, Dominique Arribagé malah membuat ekperimen gila. Dua pemain akademi dipercaya menjalani debutnya saat itu. Issa Diop (18 tahun) mengisi posisi bek tengah dan Alban Lafont (16 tahun) berdiri di bawah mistar. Kehadiran keduanya mungkin bisa disebut sebagai "Youngest Defensive Duo" yang pernah ada di Liga Prancis.

Bagi Alban Lafont, itu bukanlah debut yang biasa. Di usia 16 tahun 310 hari, ia mencatatkan rekor sebagai kiper temuda di Liga Prancis mengalahkan Mickaël Landreau. Lebih spesial lagi, Lafont mampu mempertahankan gawangnya tidak kebobolan yang membuat Toulouse menang 2-0 atas OGC Nice. Di pertandingan selanjutnya, Alban Lafont kembali buktikan kemampuan. Melawan Troyes, Lafont mencatatkan nir bobol sekaligus membantu Toulouse menang 3-0. 

Sampai akhir musim 2015-2016, kiper kelahiran Burkina Faso itu dipercaya mengawal gawang Toulouse dalam 24 pertandingan serta meraih 8 kali nir bobol. Toulouse pun berhasil lolos dari zona degradasi pada pertandingan pamungkas.

Bagi para penggemar game virutal Football Manager, Alban Lafont tentunya bukanlah nama yang asing. Dalam seri Football Manager beberapa tahun terkahir, Alban Lafont selalu muncul sebagai pemain muda atau wonderkid dengan statistik mengkilap yang wajib dimiliki oleh para manager. 

Menjanjikan Sejak Muda



Alban Marc Lafont lahir di Ouagadougou, ibukota Burkina Faso pada 23 Januari 1999 dari ayah Prancis dan ibu Burkina Faso. Setelah orang tuanya bercerai, Lafont hijrah ke Prancis bersama sang ayah. Di sana, ia bergabung bersama akademi sepak bola amatir AS Lattoise pada tahun 2008. Awalnya Lafont berposisi sebagai gelandang serang sebelum akhirnya berpindah posisi menjadi seorang penjaga gawang. Dia menghabiskan waktu enam tahun sebelum direkrut oleh Toulouse pada 2014.

Musim pertamanya bersama Toulouse bisa dibilang sebagai pembuktian kelahiran calon bintang masa depan sepak bola. Bakat Lafont pun diakui oleh media terkemuka La Gazzetta dello Sport. Alban Lafont berada diurutan ke-34 sebagai "Pemain Terbaik di Bawah 20 Tahun" menurut media asal Italia tersebut. Lafont jadi satu-satunya kiper yang masuk daftar tersebut selain kiper AC Milan, Gianluigi Donnarumma.

Pada Februari 2018, Alban Lafont dinobatkan oleh CIES Football Observatory sebagai pemain sepak bola paling menjanjikan di bawah 20 tahun setelah Gianluigi Donnarumma. Alban Lafont mengalahkan Kylian Mpabbe yang berada di posisi ketiga.

Penampilan cemerlang Lafont bersama Toulouse pun turut mendapat banyak pujian, salah satunya berasal dari kiper legendaris Prancis Mickael Landreau. "Saya suka ketenangannya. Alban membuat keputusan dalam menghalau tembakan yang brilian dan posisinya sangat bagus. Karier yang hebat akan ia dapatnya," ujar pria yang sempat membela Nantes, PSG, dan Lille tersebut.

Alban Lafont dibekali postur tubuh tinggi. Membuatnya cukup piawai menghadang bola-bola atas. Kepercayaan diri yang dimilikinya pun menjadi modal besar saat berhadapan 1 lawan 1 dengan striker lawan. Namun satu hal yang membuat Lafont disebut-sebut sebagai kiper berbakat di generasi sekarang adalah refleksnya dalam membaca arah bola.

Salah satu penampilan gemilangnya bisa dilihat ketika Toulouse berhadapan dengan PSG. Edison Cavani dibuat mati kutu oleh Lafont. Pasanyal, dua kali Lafont melakukan penyelamatan dari blank spot hasil kreasi Cavani.

Petualangan di Italia



Seperti halnya para pemian muda di Liga Prancis, bakat Alban Lafont banyak menarik minta klub-klub top Eropa yang getol memburu calon bintang. Arsenal jadi salah satu klub yang kepicut. Meriam London memang sedang mengincar pemain yang berada di pos penjaga gawang sebagai penerus Petr Cech yang kala itu segera pensiun.

Bagi para pemain muda asal Prancis, Arsenal bisa dibilang sebagai tempat berlabuh yang tepat untuk mengasah kemampuan. Tak terhitung sudah berapa banyak bintang-bintang besar Prancis yang mekar bersama Meriam London. Sebut saja Patrick Vierra, Thierry Henry, Robert Pires, sampai yang paling anyar Matteo Guendouzi. Tak tekecuali dengan Alban Lafont yang punya keinginan kuat membela klub top Eropa.

Nasib berkata lain. Alih-alih pergi ke Inggris, Lafont pada akhirnya berlabuh di kota Florence. Fiorentina berhasil mendatangkan pemain Prancis tersebut dengan tranfers 8,5 juta euro atau setara 142 miliar rupiah pada Juli 2018. Fiorentina yang baru saja kehilangan Marco Sportiello, menjanjikan Alban Lafont tempat utama di bawah mistar gawang Artemio Franchi.

Kedatangan Alban Lafont membuat Serie A semakin menarik. Ini bisa jadi ajang pembuktian dua kiper muda berbakat. Pasalnya, Serie A sudah memiliki salah satu kiper muda paling menjanjikan dalam diri Gianluigi Donnarumma. Sejak menjalani debutnya sebagai pesepakbola profesional, dua nama kiper ini memang diprediksi akan jadi pemain masa depan. Bedanya Donnaruma mendapatkan spotlight lebih besar mengingat ia sudah bermain bersama AC Milan dan Timnas Italia.

Sayangnya, kehidupan Lafont di Italia tak berjalan manis. Meski selalu jadi pilihan utama di bawah mistar gawang Fiorentina,  Lafont belum bisa menunjukkan kemampuan terbaik seperti yang ia lakukan bersama Toulouse. Dari 34 pertandingan, Lafont hanya mencatatkan 9 kali nir bobol serta 40 kali kebobolan. Penampilan impresif Bartlomiej Dragowski yang dipinjamkan Fiorentina ke Empoli pun makin mengancam posisi Lafont.

Musim 2019-2020, Fiorentina meminjamkan Alban Lafont ke Nantes selama dua tahun dengan opsi pembelian. "Sejujurnya, saya sangat senang berada di Florence. Itu adalah kota yang indah dan selalu ada di hati saya. Saya merasa petualangan saya di sini sudah berakhir," ujar Lafont dikutip dari Firenzeviola.it.

"Sebenarnya, kembali ke Prancis bukanlah pilihan utama. Saya lebih ingin mencari pengalaman lain. Tapi pada akhirnya, saya memutuskan kembali ke Prancis di mana saya menunjukkan performa terbaik," lanjut Lafont.

Kini Alban Lafont kembali memulai petualangannya di Nantes, Prancis. Memulai kembali membangun reputasinya sebagai kiper paling menjanjikan di dunia.