Alban Lafont, Harapan Bawah Mistar Perancis!



28 November 2015, Toulouse menjamu OGC Nice di Stade Municipal. Tim tuan rumah sedang dalam kondisi terpuruk. Toulouse berada di urutan ke-19 klasemen sementara Liga Prancis dengan perolehan  9 poin dari 14 pertandingan. Belum lagi mereka cuma bisa meraih satu kemenangan serta 12 kali kebobolan. Berbagai catatan buruk itu, membuat tim asuhan Dominique Arribagé tak diunggulkan.

Alih-alih memainkan tim terbaiknya, Dominique Arribagé malah membuat ekperimen gila. Dua pemain akademi dipercaya menjalani debutnya saat itu. Issa Diop (18 tahun) mengisi posisi bek tengah dan Alban Lafont (16 tahun) berdiri di bawah mistar. Kehadiran keduanya mungkin bisa disebut sebagai "Youngest Defensive Duo" yang pernah ada di Liga Prancis.

Bagi Alban Lafont, itu bukanlah debut yang biasa. Di usia 16 tahun 310 hari, ia mencatatkan rekor sebagai kiper temuda di Liga Prancis mengalahkan Mickaël Landreau. Lebih spesial lagi, Lafont mampu mempertahankan gawangnya tidak kebobolan yang membuat Toulouse menang 2-0 atas OGC Nice. Di pertandingan selanjutnya, Alban Lafont kembali buktikan kemampuan. Melawan Troyes, Lafont mencatatkan nir bobol sekaligus membantu Toulouse menang 3-0. 

Sampai akhir musim 2015-2016, kiper kelahiran Burkina Faso itu dipercaya mengawal gawang Toulouse dalam 24 pertandingan serta meraih 8 kali nir bobol. Toulouse pun berhasil lolos dari zona degradasi pada pertandingan pamungkas.

Bagi para penggemar game virutal Football Manager, Alban Lafont tentunya bukanlah nama yang asing. Dalam seri Football Manager beberapa tahun terkahir, Alban Lafont selalu muncul sebagai pemain muda atau wonderkid dengan statistik mengkilap yang wajib dimiliki oleh para manager. 

Menjanjikan Sejak Muda



Alban Marc Lafont lahir di Ouagadougou, ibukota Burkina Faso pada 23 Januari 1999 dari ayah Prancis dan ibu Burkina Faso. Setelah orang tuanya bercerai, Lafont hijrah ke Prancis bersama sang ayah. Di sana, ia bergabung bersama akademi sepak bola amatir AS Lattoise pada tahun 2008. Awalnya Lafont berposisi sebagai gelandang serang sebelum akhirnya berpindah posisi menjadi seorang penjaga gawang. Dia menghabiskan waktu enam tahun sebelum direkrut oleh Toulouse pada 2014.

Musim pertamanya bersama Toulouse bisa dibilang sebagai pembuktian kelahiran calon bintang masa depan sepak bola. Bakat Lafont pun diakui oleh media terkemuka La Gazzetta dello Sport. Alban Lafont berada diurutan ke-34 sebagai "Pemain Terbaik di Bawah 20 Tahun" menurut media asal Italia tersebut. Lafont jadi satu-satunya kiper yang masuk daftar tersebut selain kiper AC Milan, Gianluigi Donnarumma.

Pada Februari 2018, Alban Lafont dinobatkan oleh CIES Football Observatory sebagai pemain sepak bola paling menjanjikan di bawah 20 tahun setelah Gianluigi Donnarumma. Alban Lafont mengalahkan Kylian Mpabbe yang berada di posisi ketiga.

Penampilan cemerlang Lafont bersama Toulouse pun turut mendapat banyak pujian, salah satunya berasal dari kiper legendaris Prancis Mickael Landreau. "Saya suka ketenangannya. Alban membuat keputusan dalam menghalau tembakan yang brilian dan posisinya sangat bagus. Karier yang hebat akan ia dapatnya," ujar pria yang sempat membela Nantes, PSG, dan Lille tersebut.

Alban Lafont dibekali postur tubuh tinggi. Membuatnya cukup piawai menghadang bola-bola atas. Kepercayaan diri yang dimilikinya pun menjadi modal besar saat berhadapan 1 lawan 1 dengan striker lawan. Namun satu hal yang membuat Lafont disebut-sebut sebagai kiper berbakat di generasi sekarang adalah refleksnya dalam membaca arah bola.

Salah satu penampilan gemilangnya bisa dilihat ketika Toulouse berhadapan dengan PSG. Edison Cavani dibuat mati kutu oleh Lafont. Pasanyal, dua kali Lafont melakukan penyelamatan dari blank spot hasil kreasi Cavani.

Petualangan di Italia



Seperti halnya para pemian muda di Liga Prancis, bakat Alban Lafont banyak menarik minta klub-klub top Eropa yang getol memburu calon bintang. Arsenal jadi salah satu klub yang kepicut. Meriam London memang sedang mengincar pemain yang berada di pos penjaga gawang sebagai penerus Petr Cech yang kala itu segera pensiun.

Bagi para pemain muda asal Prancis, Arsenal bisa dibilang sebagai tempat berlabuh yang tepat untuk mengasah kemampuan. Tak terhitung sudah berapa banyak bintang-bintang besar Prancis yang mekar bersama Meriam London. Sebut saja Patrick Vierra, Thierry Henry, Robert Pires, sampai yang paling anyar Matteo Guendouzi. Tak tekecuali dengan Alban Lafont yang punya keinginan kuat membela klub top Eropa.

Nasib berkata lain. Alih-alih pergi ke Inggris, Lafont pada akhirnya berlabuh di kota Florence. Fiorentina berhasil mendatangkan pemain Prancis tersebut dengan tranfers 8,5 juta euro atau setara 142 miliar rupiah pada Juli 2018. Fiorentina yang baru saja kehilangan Marco Sportiello, menjanjikan Alban Lafont tempat utama di bawah mistar gawang Artemio Franchi.

Kedatangan Alban Lafont membuat Serie A semakin menarik. Ini bisa jadi ajang pembuktian dua kiper muda berbakat. Pasalnya, Serie A sudah memiliki salah satu kiper muda paling menjanjikan dalam diri Gianluigi Donnarumma. Sejak menjalani debutnya sebagai pesepakbola profesional, dua nama kiper ini memang diprediksi akan jadi pemain masa depan. Bedanya Donnaruma mendapatkan spotlight lebih besar mengingat ia sudah bermain bersama AC Milan dan Timnas Italia.

Sayangnya, kehidupan Lafont di Italia tak berjalan manis. Meski selalu jadi pilihan utama di bawah mistar gawang Fiorentina,  Lafont belum bisa menunjukkan kemampuan terbaik seperti yang ia lakukan bersama Toulouse. Dari 34 pertandingan, Lafont hanya mencatatkan 9 kali nir bobol serta 40 kali kebobolan. Penampilan impresif Bartlomiej Dragowski yang dipinjamkan Fiorentina ke Empoli pun makin mengancam posisi Lafont.

Musim 2019-2020, Fiorentina meminjamkan Alban Lafont ke Nantes selama dua tahun dengan opsi pembelian. "Sejujurnya, saya sangat senang berada di Florence. Itu adalah kota yang indah dan selalu ada di hati saya. Saya merasa petualangan saya di sini sudah berakhir," ujar Lafont dikutip dari Firenzeviola.it.

"Sebenarnya, kembali ke Prancis bukanlah pilihan utama. Saya lebih ingin mencari pengalaman lain. Tapi pada akhirnya, saya memutuskan kembali ke Prancis di mana saya menunjukkan performa terbaik," lanjut Lafont.

Kini Alban Lafont kembali memulai petualangannya di Nantes, Prancis. Memulai kembali membangun reputasinya sebagai kiper paling menjanjikan di dunia.