Andre Schurrle dan Mereka yang Pensiun Terlalu Dini



Bagi sebagian orang, profesi sepak bola merupakan pilihan pekerjaan yang riskan. Tak seperti pegawai kantoran, pemain sepak bola memiliki jenjang karier yang cukup singkat. Rata-rata angka produktif para pemain sepak bola akan menurun jika telah memasuki usia 36 tahun ke atas. 

Ketahanan fisik adalah kunci utama para pesepak bola profesional demi menunjang performanya di lapangan. Tak ayal, ketika usia makin bertambah namun tidak diimbangi oleh fisik prima, siap-siap saja pintu keluar bernama pensiun menjadi pilih logis untuk diambil.

Andre Schurrle merupakan kasus terbaru dari ketatnya industri sepak bola belakangan ini. Di usia yang masih tergolong muda yakni 29 tahun, pemain yang membawa Jerman juara Piala Dunia 2014 itu memutuskan pensiun.

Melalui akun Instagramnya, Schurrle menuliskan salam perpisahannya. "Atas nama saya dan keluarga, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang menjadi bagian dari tahun-tahun yang fenomenal ini! Dukungan dan cinta yang kalian berikan luar biasa dan lebih dari yang pernah saya minta."

Nama Schurrle mencuat kala membela Mainz 05 dan Bayern Leverkusen. Chelsea kemudian memboyong pemuda kelahiran 6 November 1990 ke Stamford Bridge. Dua tahun di London, Schurrle cuma bermain sebanyak 44 kali dan mengemas 11 gol. Ia kemudian hijrah ke Wolfsburg sebelum akhirnya berlabuh bersama Dortmund.

Sayang, lagi-lagi Schurrle tak bisa menunjukkan performa terbaiknya. Sempat dipinjamkan ke Fulham dan Spartak Moscow, hingga akhirnya ia memilih untuk pensiun setelah Dortmund memutus kontraknya meski masih menyisakan durasi satu tahun.

Andre Schurrle hanyalah satu nama dari pesepak bola yang memilih gantung sepatu di usia yang terbilang dini. Beberapa lainnya adalah;

1. Marco van Basten



227 gol selama berkarier sebagai pesepak bola merupakan bukti bagaimana kehebatan Marco van Basten sebagai seorang striker. Periode 1980-an hingga akhir 1990-an van Basten adalah role model penyerang kelas satu. Punya kaki kiri dan kanan yang sama kuat, jago duel udara, dan ketenangannya dalam menyelesaikan peluang sekecil apapun, bikin ia diganjar tiga gelar Ballon d`Or dan satu gelar pemain terbaik FIFA.

Ajax, AC Milan dan Timnas Belanda mungkin cukup beruntung memiliki van Basten dalam timnya. Berbagai gelar mampu van Basten persembahkan untuk klub yang ia bela. Sayang, bakat besarnya itu terkendala cedera hebat yang ia alami di usia 28 tahun. Meski masih bisa bertahan, cedera pergelangan kaki, membuatnya harus memilih pensiun dini di usia 31 tahun.

2. Eric Cantona



Pada 18 Mei 1997 publik Old Trafford dibuat kaget akibat keputusan Eric Cantona pensiun dari dunia sepak bola. Bagaimana tidak, pemain bernomor 7 itu sedang berada di masa emasnya dan tidak terganggu masalah cedera. Di musim terakhirnya membela Manchester United, bahkan Cantona masih bisa mengoleksi 11 gol dan 12 assist.

Kekalahan atas Dortmund di semifinal Liga Champions 1996/1997 dikabarkan jadi alasan kuat Cantona memilih pensiun. Padahal jika Cantona masih mau melanjutkan karier sepak bolanya, minimal selama dua tahun, ia bisa jadi bagian skuat Manchester United meraih Treble Winner sekaligus mengantar Prancis jadi juara Piala Dunia 1998.

3. Carlos Roa



Jika kebanyakan pesepak bola memilih pensiun dini karena alasan cedera, beda halnya dengan Carlos Angel Roa. Kiper timnas Argentina di Piala Dunia 1998 ini memutuskan gantung sepatu akibat menganut seuatu kepercayaan.

Ya, Roa meyakini jika akan terjadi kiamat pada akhir tahun 1999. Alhasil, Roa tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Keluarga dan staff Mallorca, klub Roa kala itu, panik dengan perilaku Roa tersebut.

Padahal karier Carlos Roa sebenarnya sedang menanjak. Setelah tampil membela Argentina di Piala Dunia 1998, Roa punya kesempatan bergabung bersama Manchester United sebagai penerus Peter Schmeichel

4. Just Fontaine



Mungkin nama Just Fontaine cukup asing di telinga penggemar sepak bola. Padahal, pemain berkewarganegaraan Perancis itu punya rekor hebat yang rasanya sulit dipecahkan oleh siapapun. 

Sebelum hadirnya Ronaldo dan Miroslav Klose, Just Fontaine merupakan pemegang rekor pencetak gol terbanyak di Piala Dunia dengan 13 gol. Hebatnya, Just Fontaine cuma butuh satu gelaran Piala Dunia saja untuk mengemas seluruh golnya itu. Semuanya terjadi di Piala Dunia 1958 yang digelar di Swedia. 

Sayangnya, pada saat itu belum ada penghargaan khusus terhadap pemain yang paling banyak mencetak gol. Just Fontaine baru menerima Sepatu Emas 40 tahun kemudian yang diserahkan legenda Inggris, Gary Lineker.

Nama Just Fontaine memang tak setenar para top skor Piala Dunia lainnya. Mungkin salah satu alasannya karena karier Fontaine yang singkat. Pemain yang punya darah Maroko ini terpaksa pensiun dini di usia 27 tahun setelah dua kali mengalami patah tulang kaki.

5. Sebastian Deisler



Sebastian Deisler adalah pemain Jerman yang punya prospek cerah. Di usia 20 tahun, Deisler sudah membela timnas Jerman. Deisler juga merupakan pemain termuda yang masuk skuat Jerman dalam gelaran Piala Eropa 2000 di Belanda dan Belgia. 

Sayang, bakat besar sejak usia muda itu harus pupus akibat cedera berkepanjangan. Akibatnya, Deisler merasa depresi dan tak pernah lagi mempercayai kakinya untuk terus bermain sepak bola. Sebastian Deisler memutuskan gantung sepatu di usia 27 tahun ketika membela Bayern Munich.

6. Hidetoshi Nakata



Di media 90-an, tak banyak pesepak bola asal Asia yang bisa merumput di liga-liga Eropa. Satu nama yang mungkin merepresentasikan Asia di industri sepak bola kala itu tak lain adalah Hidetoshi Nakata. Pemain Jepang ini berhasil menjalani debut manisnya bersama Perugia. 

1,5 tahun berselang, sinar Nakata makin gemerlap setelah pindah ke AS Roma. Ia mampu mempersembahkan Scudetto untuk Roma pada musim 2000/2001. 

David Beckham versi Asia ini juga sempat merumput di beberapa klub seperti Fiorentina, Parma, Bologna, dan Bolton, sebelum akhirnya memilih pensiun di usia 29 tahun.

Nakata punya alasan kuat gantung sepatu di usia yang masih produktif untuk ukuran pesepak bola. 

"Ketika saya lahir saya tidak dilahirkan untuk menjadi pemain sepak bola, saya dilahirkan untuk menjadi diri saya sendiri," ucap Nakata.

"Jadi sepak bola hanya gairah saya. Saya tidak melihat sepak bola sebagai karier atau impian saya," imbuhnya, dikutip SportFEAT.com dari SCMP.com.

7. David Bentley



Jika sudah tak cinta, untuk apa dilanjutkan. Mungkin ungkapan itu sangat tepat ditunjukkan kepada David Bentley. Pemain yang sempat dijuluki The Next David Beckham karena memiliki akurasi umpan yang presisi ini memutuskan gantung sepatu karena tak lagi memiliki gairah saat bermain sepak bola. 

Berada di puncak karier kala merumput bersama Spurs, Bentley mengakhiri kariernya pada tahun 2013 setelah membela beberapa klub seperti Birmingham City, West Ham United, Blackburn hingga klub Rusia, FC Rostov.

"Sekarang semuanya seperti robot mulai dari sisi media sosial hingga uang yang dihasilkan di pertandingan. Saya benci mengatakannya, tapi itu membuatnya membosankan dan mudah diprediksi. Untuk bermain tiga atau empat tahun lagi bukan pilihan tepat bagi saya," ujar pemain yang pensiun di usia 29 tahun tersebut seperti dikutip dari The Guardian.