Belajar Ilmu Ikhlas dari Liga Belanda


Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) resmi menghentikan kompetisi Eredivisie pada jumat (24/4/2020) malam WIB. Keputusan ini diambil lantaran pemerintah setempat memperpanjang masa lockdown hingga 1 September 2020 mendatang.

Seperti liga-liga Eropa lainnya, terkecuali Liga Belarusia, Eredivisie terpaksa dihentikan sementara sejak 12 Maret 2020 atau setelah pekan ke-26 liga akibat pandemi virus corona. 

Sebenarnya sih, kompetisi tertinggi di Belanda tersebut akan kembali bergulir pada 30 Maret lalu. Namun setelah berkonsultasi dengan UEFA dan klub-klub peserta, KNVB mengambil langkah menghentikan jalannya kompetisi. Selain itu, Liga Belanda musim ini juga tak menghasilkan tim juara maupun degradasi. Nir juara ini untuk pertama kalinya terjadi sejak tahun 1945.

Padahal jika boleh jujur, peta persaingan sedang sengit-sengitnya. Ajax Amsterdam dan AZ Alkmaar sama-sama bercokol di posisi teratas dengan 56 poin. Ajax lebih unggul karena selisih gol, meski AZ Alkmaar dua kali mengalahkan Ajax baik kala bermain tandang maupun kandang.

Keputusan penghentian Liga Belanda pun cukup disayangkan oleh CEO Ajax Amsterdam, Edwin Van der Sar. "Sebagai pemain, tentu anda ingin menjadi juara dan membuktikannya di atas lapangan," ujarnya saat diwawancara Skysports. 

"Kami telah berada di peringkat pertama sepanjang musim dan sangat disayangkan tidak dinyatakan sebagai juara. Namun, dalam situasi sekarang keputusan ini bisa dipahami. Ada masalah yang jauh lebih penting daripada sepak bola," tambahnya.

Perdebatan yang Pantas Juara



Beda halnya dengan Van der Sar yang lebih legowo, bintang muda Ajax, Hakim Ziyech, merasa penghentian Liga menimbulkan perdebatan siapa yang layak jadi juara. "Liga Belanda tidak ada juara resmi. Tapi tentu jika saya memilih, Ajax layak dinobatkan sebagai juara," ujar pemain yang musim depan akan membela Chelsea tersebut. 

"Banyak cerita menyebut jika AZ Alkmar layak disebut sebagai juara karena mengalahkan kami dua kali. Tapi apakah perbedaan gol, seperti biasanya, tidak lagi dihitung? Omong kosong tentu saja," lanjut Ziyech mengungkapkan kekesalannya.

Rasa Kemanusiaan



Namun tak selamanya keputusan penghentian Liga di tengah jalan ini disambut negatif. Marc Overmars, yang kini menjabat sebagai direktur teknik Ajax Amsterdam, sejak jauh-jauh hari mengusulkan agar Eredivise dihentikan mengingat makin mengkhawatirkannya pandemi virus corona.

"Kenapa harus selalu tentang uang dan bukan kesejahteraan masyarakat pada saat sekarang ini? Saya berharap KNVB bisa mengambil keputusan yang independen, tetapi mereka sembunyi di balik UEFA," tutur Overmars.

Memang, disetopnya Liga di tengah jalan menimbulkan dampak negatif. Bukan cuma karena tidak melahirkan sang juara, tetapi juga kerugian materi yang cukup signifikan. Bayangkan saja, para klub harus kehilangan pemasukan dari penjualan tiket, hak siar televisi, sampai bonus kompetisi andai mereka juara

Di sisi lain, klub juga perlu memutar otak untuk terus menggaji para pemain, pelatih, sampai para staff yang berhubungan langsung dengan bisnis klub.

Tapi toh, sendaianya kompetisi tetap bergulir di tengah pandemi corona, bukan tak mungkin kerugian akan jauh lebih besar. Pertandingan sepak bola yang mengundangan banyak penonton untuk datang ke stadion menjadi sangat berisiko. Hingga kini, tak kurang ada 38 ribu kasus pasien positif corona di Belanda. Dengan memaksa melanjutkan sisa kompetisi, rasanya bukanlah suatu keputusan yang bijak.

Ilmu Ikhlas dari Liga Belanda



Entah kebetulan atau tidak, pada akhirnya KNVB selaku otoritas tertinggi sepak bola Belanda memilih untuk "mengikhlaskan" kompetisinya berakhir dini saat memasuki bulan suci Ramadan. Tepat di bulan penuh rahmat akan kebaikan.

Ilmu "mengikhlaskan" pun belakangan diikuti oleh Argentina. Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) resmi meghentikan seluruh kompetisi profesionalnya pada Senin (27/4/2020) waktu setempat.

Pertanyannya, apakah liga-liga lain akan mengikuti jejak KNVB atau AFA untuk menghentikan kompetisi?

Mungkin andai ada klub yang ikhlas kembali tak meraih trofi liga domestik selama 30 tahun terakhir, bakal ada satu lagi kompetisi elit Eropa yang akan berhenti di tengah jalan.
Previous Post
Next Post

0 comments: