Kenapa Permainan Sepak Bola Dimainkan 11 vs 11?



Dalam sebuah kesempatan, Garry Lineker pernah melontarkan penyataan menarik. "Sepak bola adalah permainan sederhana, 22 orang mengejar bola selama 90 menit dan pada akhirnya Jerman keluar sebagai pemenang," ujar mantan punggawa Timnas Inggris tersebut.

Bukan tanpa sebab, pasalnya ungkapan yang melegenda hingga sekarang itu ia lontarkan setelah Inggris lagi-lagi kalah dari Jerman pada semi final Piala Dunia 1990 di Italia.

Poin menarik dari ucapan Lineker yang mungkin tak banyak orang pikirkan sebelumnya adalah, mengapa sebuah pertandingan sepak bola harus dimainkan oleh 22 orang yang terbagi dalam dua tim? kenapa satu tim terdiri dari 11 orang? Dari mana aturan itu mulai diberlakukan?

Untuk menjawabnya, mungkin kita perlu mundur jauh ke belakang di mana sepak bola belum ditemukan.

Calcio Fiorentino



Sejarah bermula dari sebuah olahraga bernama Calcio Fiorentino yang sangat populer pada abad ke-16 di Italia. Calcio Fiorentino (atau kini disebut Calcio Storico) merupakan cikal bakal dari sepak bola dan rugbi. Bahkan kata Calcio kemudian diadopsi menjadi istilah sepak bola dalam bahasa Italia.

Setiap tim yang bertanding, terdiri dari....27 orang! di mana terdapat 5 orang yang bertugas sebagai penjaga gawang. Lucunya lagi, olahraga Calcio Fiorentino dimainkan di sebuah lapangan yang luasnya hampir mirip dengan lapangan sepak bola modern. Bisa dibayangkan betapa brutalnya 54 orang beradu untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya.

Sepak bola modern kemudian berkembang di Inggris dengan menetapkan beberapa dasar yang membuat olahraga ini semakin digemari. Namun, belum ada aturan yang jelas terkait jumlah pemain. Biasanya setiap tim terdiri dari 15 sampai 21 orang. Hasilnya tensi pertandingan dan gesekan fisik antar pemian terjadi begitu intens.

Aturan Baku



Perubahan besar datang pada tahun 1879. Regulasi tentang penetapan jumlah pemain mulai diberlakukan. Antara lain, memutuskan bahwa setiap tim wajib memiliki satu penjaga gawang. Diputuskan juga jika harus ada 11 orang dalam satu tim. Bersamaan dengan itu, terjadi pemisahan yang jelas antara olahraga rugby dengan sepak bola (soccer). 

Lantas kenapa harus 11? Seperti kita ketahui, pajang lapangan sepak bola adalah 90 – 120 meter dan lebarnya 45-90 meter. Setelah melewati serangkaian uji coba dan pengamatan, didapatkan jika pergerakan 22 orang di atas lapangan akan lebih leluasa untuk menghindari tekanan lawan yang terlalu intens.

Jika pemain di atas lapangan kurang dari 22 orang, pemain akan cepat lelah. Sedangkan jika lebih dari 22 pemain, maka lapangan akan terasa sempit sehingga para pemain tidak leluasa bergerak.

Ada teori lain terkait alasan penetapan jumlah pemain sepak bola. Para manajer sepak bola kala itu menginginkan olahraga mereka sepopuler atau bahkan lebih populer dari kriket sehingga meniru jumlah pemainnya

Jika memang teori itu benar, maka kepopuleran olah raga sepak bola seperti sekarang mungkin saja karena jumlah pemain setiap timnya.

Belajar Ilmu Ikhlas dari Liga Belanda


Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) resmi menghentikan kompetisi Eredivisie pada jumat (24/4/2020) malam WIB. Keputusan ini diambil lantaran pemerintah setempat memperpanjang masa lockdown hingga 1 September 2020 mendatang.

Seperti liga-liga Eropa lainnya, terkecuali Liga Belarusia, Eredivisie terpaksa dihentikan sementara sejak 12 Maret 2020 atau setelah pekan ke-26 liga akibat pandemi virus corona. 

Sebenarnya sih, kompetisi tertinggi di Belanda tersebut akan kembali bergulir pada 30 Maret lalu. Namun setelah berkonsultasi dengan UEFA dan klub-klub peserta, KNVB mengambil langkah menghentikan jalannya kompetisi. Selain itu, Liga Belanda musim ini juga tak menghasilkan tim juara maupun degradasi. Nir juara ini untuk pertama kalinya terjadi sejak tahun 1945.

Padahal jika boleh jujur, peta persaingan sedang sengit-sengitnya. Ajax Amsterdam dan AZ Alkmaar sama-sama bercokol di posisi teratas dengan 56 poin. Ajax lebih unggul karena selisih gol, meski AZ Alkmaar dua kali mengalahkan Ajax baik kala bermain tandang maupun kandang.

Keputusan penghentian Liga Belanda pun cukup disayangkan oleh CEO Ajax Amsterdam, Edwin Van der Sar. "Sebagai pemain, tentu anda ingin menjadi juara dan membuktikannya di atas lapangan," ujarnya saat diwawancara Skysports. 

"Kami telah berada di peringkat pertama sepanjang musim dan sangat disayangkan tidak dinyatakan sebagai juara. Namun, dalam situasi sekarang keputusan ini bisa dipahami. Ada masalah yang jauh lebih penting daripada sepak bola," tambahnya.

Perdebatan yang Pantas Juara



Beda halnya dengan Van der Sar yang lebih legowo, bintang muda Ajax, Hakim Ziyech, merasa penghentian Liga menimbulkan perdebatan siapa yang layak jadi juara. "Liga Belanda tidak ada juara resmi. Tapi tentu jika saya memilih, Ajax layak dinobatkan sebagai juara," ujar pemain yang musim depan akan membela Chelsea tersebut. 

"Banyak cerita menyebut jika AZ Alkmar layak disebut sebagai juara karena mengalahkan kami dua kali. Tapi apakah perbedaan gol, seperti biasanya, tidak lagi dihitung? Omong kosong tentu saja," lanjut Ziyech mengungkapkan kekesalannya.

Rasa Kemanusiaan



Namun tak selamanya keputusan penghentian Liga di tengah jalan ini disambut negatif. Marc Overmars, yang kini menjabat sebagai direktur teknik Ajax Amsterdam, sejak jauh-jauh hari mengusulkan agar Eredivise dihentikan mengingat makin mengkhawatirkannya pandemi virus corona.

"Kenapa harus selalu tentang uang dan bukan kesejahteraan masyarakat pada saat sekarang ini? Saya berharap KNVB bisa mengambil keputusan yang independen, tetapi mereka sembunyi di balik UEFA," tutur Overmars.

Memang, disetopnya Liga di tengah jalan menimbulkan dampak negatif. Bukan cuma karena tidak melahirkan sang juara, tetapi juga kerugian materi yang cukup signifikan. Bayangkan saja, para klub harus kehilangan pemasukan dari penjualan tiket, hak siar televisi, sampai bonus kompetisi andai mereka juara

Di sisi lain, klub juga perlu memutar otak untuk terus menggaji para pemain, pelatih, sampai para staff yang berhubungan langsung dengan bisnis klub.

Tapi toh, sendaianya kompetisi tetap bergulir di tengah pandemi corona, bukan tak mungkin kerugian akan jauh lebih besar. Pertandingan sepak bola yang mengundangan banyak penonton untuk datang ke stadion menjadi sangat berisiko. Hingga kini, tak kurang ada 38 ribu kasus pasien positif corona di Belanda. Dengan memaksa melanjutkan sisa kompetisi, rasanya bukanlah suatu keputusan yang bijak.

Ilmu Ikhlas dari Liga Belanda



Entah kebetulan atau tidak, pada akhirnya KNVB selaku otoritas tertinggi sepak bola Belanda memilih untuk "mengikhlaskan" kompetisinya berakhir dini saat memasuki bulan suci Ramadan. Tepat di bulan penuh rahmat akan kebaikan.

Ilmu "mengikhlaskan" pun belakangan diikuti oleh Argentina. Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) resmi meghentikan seluruh kompetisi profesionalnya pada Senin (27/4/2020) waktu setempat.

Pertanyannya, apakah liga-liga lain akan mengikuti jejak KNVB atau AFA untuk menghentikan kompetisi?

Mungkin andai ada klub yang ikhlas kembali tak meraih trofi liga domestik selama 30 tahun terakhir, bakal ada satu lagi kompetisi elit Eropa yang akan berhenti di tengah jalan.

Liga Belarusia, Oase Segar di Tengah Pandemi Corona



Lupakan sejenak hingar bingar kompetisi Premier League, lupakan pula european night Liga Champions yang kerap menghadirkan daya magis sendiri, karena sehebat apapun, semenarik apapun, segemerlap apapun, seluruh kompetisi elit eropa harus tumbang akibat pandemi virus corona (covid-19).

Dampak corona terhadap industri sepak bola memang begitu dahsyat. Turnamen besar seperti Piala Eropa hingga Copa America terpaksa mengatur ulang jadwalnya. Bahkan Liga Belanda sudah memutuskan jika kompetisi musim 2019/2020 resmi berakhir tanpa adanya tim juara dan degradasi.

Untungnya, para pecinta sepak bola tak perlu mati kutu karena kehilangan hiburan. Sebab, Belarusian Premier League jadi satu-satunya liga sepak bola Eropa yang tetap menjalankan kompetisi di tengah ancaman virus corona.

Presiden Belarusia, Alexander Lukashenko, masih belum mau mengintruksikan negaranya untuk melakukan lockdown besar-besaran meskipun terdapat 11 ribu kasus pasien positif corona hingga saat ini. Itu artinya, masyarakat Belarusia masih diperbolehkan beraktivitas secara normal, termasuk menggelar pertandingan sepak bola.

Alexander Lukashenko malah mengajak masyarakat Belarusia meminum dua gelas vodka sehari sebagai imun mencegah terjangkit corona.

Pro dan Kontra Liga Belarusia




Sebagai kompetisi satu-satunya yang masih berjalan, tentu menjadi berkah tersendiri bagi The Belarusian Premier League atau Liga Belarusia. Negara yang belum pernah ikut serta dalam turnamen sepak bola besar ini mendadak jadi "kiblat" para penikmat sepak bola di seluruh dunia. Fans yang haus akan hiburan, pada akhirnya menyalakan televisi atau mencari siaran streaming yang mepertandingkan klub-klub Belarusia. 

Sebelum pandemi, Liga Belarusia cuma bekerja sama dengan dua stasiun televisi. Tapi kini, mereka menyiarkan liganya langsung ke 10 negara berbeda! 

Meski menaikkan popularitas Liga Belarusia di mata dunia, kompetisi yang terus berjalan di tengah pandemi ini juga mendapat sentimen negatif dari suporter lokal. Mereka tak segan memboikot pertandingan sehingga membuat stadion terlihat kosong. Ketegangan terus meningkat ketika para penggemar saling mendesak untuk tetap di rumah.

Cara Jitu Klub Dynamo Brest



FC Dynamo Brest tak ambil pusing dengan sikap suporter lokal tersebut. Sang juara bertahan Liga Belarusia itu punya cara unik menarik penggemar di seluru dunia. Mereka menjual tiket virtual yang bukan cuma menawarkan Match Day Program saja tapi juga kesempatan untuk datang ke stadion. Caranya? Wajah para pemegang tiket ini akan di-print dan dijadikan sebuah topeng yang diletakkan di setiap kursi stadion, plus pernak-pernik khas seorang suporter.

Dalam beberapa pertandingan, stadion Dynamo Brest terlihat cukup unik dengan kehadiran para "suporter palsu" dari seluruh penjuru dunia yang berbaur dengan suporter lokal.

Serba-serbi Liga Belarusia



Belarusian Premier League resmi bergulir pada tahun 1993 setelah Belarusia memisahkan diri dari Uni Soviet dan menjadi negara yang merdeka. Diikuti oleh 16 tim yang bermain kandang dan tandang setiap musimnya, Liga Belarusia normalnya hanya menarik minat ratusan suporter saja yang datang ke stadion.

Dinamo Minsk adalah tim pertama yang mendominasi dengan menjuarai enam dari tujuh musim pertama Liga Belarusia.

Bagi kamu yang kerap memperhatikan tim kurcaci yang berlaga di Liga Champions, rasanya tak akan asing dengan nama BATE Borisov. Meraih 13 gelar dari musim 2006 hingga 2018, BATE merupakan tim langganan yang mewakili Belarusia di kancah Eropa.

Belarusia Premier League kini sudah memasuki pekan keenam, di mana Slutsk kokoh berada di puncak dengan raihan 13 poin. Sedangkan sang juara bertahan Dynamo Brest masih tertarih di urutan ke-14. Sementara tim tersukses di Liga Belarusia, BATE Borisov, berada di posisi ke-4.

Mengingat Liga Belarusia baru saja di mulai, tak ada salahnya bagi kamu menikmati pertandingan-pertandingan menarik di Belarusian Premier League selagi menunggu Liga-liga Eropa kembali bergulir.

Tentang Bawah Mistar



Seperti sebuah pepatah, tak kenal maka tak sayang. Untuk itu, ada baiknya memulai segala sesuatu yang baru di blog ini, saya ingin sedikit menjelaskan tentang apa itu blog Bawah Mistar.

Lahirnya blog ini tercetus karena keinginan saya untuk mencurahkan isi hati tentang segala hal yang berbau sepak bola. Untuk itu, Bawah Mistar saya niatkan menjadi wadah melampiaskan "unek-unek" tentang si kulit bundar.

Sebagai seorang penggmar sepak bola yang juga hobi menulis, tentu tak ada salahnya untuk menggabungkan dua minat saya itu di dalam satu tempat bernama Bawah Mistar. Apalagi melihat bagaimana berkembangnya dunia jurnalisme di era digital ini, semakin menambah kegemaran saya mengasah ilmu menulis seputar sepak bola supaya lebih baik.

Nama Bawah Mistar sendiri terinspirasi dari posisi favorit saya ketika bermain sepak bola, yakni penjaga gawang.

Penjaga gawang memiliki peran paling spesial di sepak bola. Bagaimana tidak, ketika semua pemain dibebaskan untuk bergerak ke mana saja, penjaga gawang ditakdirkan untuk hidup melindungi jaringnya agar tak kebobolan. Berdiri hanya diapit oleh tiang dan sebuah mistar, ia layaknya pria paling kesepian di dunia.

Bawah Mistar juga bisa jadi sarana si "penjaga gawang" mengisi kesepiannya ketika semua temannya berjibaku di tengah lapangan.