Lika-liku Karier Julen Lopetegui

Apa persamaan antara Pep Guardiola, Zinedine Zidane, Antonio Conte dan Johan Cruyff? Mereka merupakan deretan pelatih top yang meniti karier sepakbolanya sebagai seorang gelandang. Mereka yang berposisi di lini tengah permainan, dianggap lebih mengerti bagaimana mengatur ritme bermain, baik itu saat menyerang atau bertahan. Mereka dibekali visi bermain, membaca taktik permainan, dan kepemimpinan yang diperlukan sebagai modal menjadi pelatih hebat. 

Namun, tak melulu hanya para gelandang yang sukses sebagai pelatih. Meski minor, pemain yang notabene eks penjaga gawang pun bisa buktikan diri menahkodai tim di level tinggi. Coba saja tanyakan pada Julen Lopetegui.

Final Liga Eropa 2019/2020 mempertemukan Sevilla vs Inter Milan di Stadion RheinEnergie, Jerman, pada Sabtu (22/8/2020) dini hari WIB. Bagi Sevilla, ini adalah kali ke-6 mereka bisa merasakan final di turnamen "kelas dua" Eropa ini. 

Jika melihat susunan skuat yang dimiliki kedua tim, Inter Milan memiliki keuntungan. Mulai dari penjaga gawang sampai barisan penyerangan diisi oleh deretan pemain bintang yang kenyang pengalaman. Namun, itu tak membuat Sevilla gentar. Julen Lopetegui berhasil meramu strategi brilian untuk meredam kekuatan Il Nerazzurri.

Memainkan skema 4-3-3, Julen Lopetegui coba memaksimalkan peran full back-nya (Jesus Navas dan Sergio Reguilon) dalam menyisir area sisi Inter Milan. Lopetegui melihat titik lemah formasi 3-5-2 Inter Milan asuhan Antonio Conte. Dalam formasi tersebut, Ashley Young dan D'Ambrosio yang diplot sebagai wing back kerap membuat celah yang bisa dieksploitasi.

Kombinasi Reguilon dan Ocampos di sisi kiri Sevilla serta Navas dan Suso di kanan benar-benar merepotkan kedua wingback Inter. Tak aneh, jika Ashley Young dan D'Ambrosio cuma mendapat rating 6,2 dan 5,6 menurut whoscored, membuktikan bagaimana sayap-sayap lincah Sevilla sangat efisien meneror pertahanan Inter Milan. 

Julen Lopetegui pun coba memaksimalkan set-piece. Apalagi Sevilla memiliki Ever Banega yang punya kualitas mengeksekusi bola-bola mati. Hal ini juga yang mendasari kenapa Julen Lopetegui memilih Luuk de Jong sebagai ujung tombak dibanding En-Nesyri. De Jong memiliki keunggulan dalam duel bola-bola udara.

Semua strategi Julen Lopetegui itu terbayarkan. Meski harus tertinggal 1-0 akibat penalti Romelu Lukaku, Sevilla mampu bangkit. Gol pertama Sevilla tercipta berkat pergerakan Jesus Navas di sisi kiri pertahanan Inter Milan. Mantan pemain Manchester City ini mengirimkan umpan silang yang berhasil diselesaikan oleh Luuk de Jong dengan sundulan.

Gol kedua Sevilla bermula dari skema set-piece. Umpan manis Ever Banega ke tiang jauh, disambut oleh Luuk de Jong yang berdiri bebas. Skema set-piece lagi-lagi jadi andalan anak asuh Julen Lopetegui. Gol pamungkas sekaligus penentu kemenangan berawal dari tendangan bebas Ever Banega di sisi kiri pertahanan Inter Milan. Diego Carlos berhasil menyambut bola liar dengan tendangan salto. 

Sevilla 3-2 Inter Milan. Sevilla memastikan gelar ke-6 Liga Eropa. Bagi Julen Lopetegui ini adalah piala pertamanya sebagai pelatih klub profesional

Lika-liku Karier Lopetegui



Sebagai seorang pemain, Julen Lopetegui bisa dibilang pemain yang biasa-biasa saja. Ditempa di Castilla (Tim B Real Madrid), pria kelahiran Asteasu ini cuma sekali dipercaya mengawal gawang Real Madrid. Lopetegui baru bisa menjadi pilihan utama di klub semenjana seperti Logrones tahun 1991-1994 dan Rayo Vallecano 1997-2001. Ia juga pernah membela Barcelona di musim 1994-1997 dengan mengemas 5 caps.

Tak terlalu sukses sebagai pemain, tak membuat Lopetegui menyerah. Pasca pensiun, Lopetegui dipercaya menjadi asisten pelatih Timnas Spanyol U-17 tahun 2003. Di tahun yang sama, ia kemudian ditunjuk menangani Rayo Vallecano di divisi dua Liga Spanyol. Sayang, debut kepelatihan bersama klub profesional berjalan singkat. Lopetegui cuma menjalani 10 laga saja sebelum akhirnya dipecat akibat hasil buruk yang membuat Rayo Vallecano degradasi ke Divisi Tiga.

Sejak tahun 2010 sampai 2014, Julen Lopetegui melatih Timnas Spanyol di berbagai level usia. Mulai dari U19, U20, dan U21. Ia berhasil mempersembahkan gelar Piala Eropa U19 tahun 2012 dan Piala Eropa U21 tahun 2013. Nama-nama populer seperti David de Gea, Isco, Koke, Thiago Alcantara, dan Alvaro Morata adalah contoh polesan tangan dingin Lopetegui saat menukangi Spanyol U21.

Tahun 2014, ia dipercaya melatih klub raksasa Portugal, FC Porto. Selama dua tahun, ia gagal mempersembahkan satu pun trofi untuk publik Do Dragao.

Sukses bersama tim junior Spanyol, Julen Lopetegui akhirnya dipercaya menukangi Timnas Spanyol senior pada tahun 2016. Tugas utamanya adalah membawa Spanyol lolos ke Piala Dunia 2018. Tergabung di Grup G, Spanyol lolos dengan catatan nyaris sempurna. Meraih 9 kemenangan dari 10 pertandingan

Konflik Spanyol - Real Madrid


Selepas kepergian Zinedine Zidane, Real Madrid sedang gencar berburu pelatih baru. Gaya main Julen Lopetegui di Spanyol membuat Real Madrid kepincut membawanya ke Santiago Bernabeu. Di sinilah bencana besar dimulai.

Di tengah persiapan Timnas Spanyol jelang tampil di Piala Dunia 2018, ia memutuskan akan menangani Real Madrid pada musim 2018/2019. Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF) tidak puas dengan apa yang dilakukan oleh Lopetegui, karena dianggap mengganggu persiapan La Furia Roja. RFEF memutuskan memecat Julen Lopetegui dua hari sebelum kick off Piala Dunia 2018.

Di Real Madrid sendiri, Julen Lopetegui gagal menjiplak kesuksesannya bersama Timnas Spanyol. Dari 14 pertandingan, ia cuma bisa membawa Madrid menang 6 kali, imbang 2 kali, dan kalah 2 kali. Alhasil, ia dipecat pada Oktober 2018.

Bangkit Bersama Sevilla


Gagal kala menukangi klub seperti Rayo Vallecano, Porto dan Real Madrid, tak membuat karier kepelatihan Julen Lopetegui hancur. Juni 2019, Sevilla menunjuk Lopetegui sebagai nahkoda baru. Ini menjadi kesempatan baru bagi Lopetegui untuk membuktikan kepiawaiannya meramu taktik.

Untuk membangun skuat yang ideal dalam skema 4-3-3, Lopetegui bergerak cepat di bursa transfer. Nemanja Gudelj, Fernando, Jules Kounde, Sergio Reguilon, Lucas Ocampos, Luuk de Jong, dan Diego Carlos adalah deretan pemain yang resmi didatangkan. 

Mereka juga lah yang jadi bagian integral penting Sevilla meraih peringkat 4 klasemen Liga Spanyol musim ini. Malah Luuk de Jong dan Diego Carlos mampu menyumbang gol di final Liga Eropa melawan Inter Milan.

Setelah sukses meraih trofi pertamanya bersama klub profesional, menjadi pembuktian Julen Lopetegui sebagai seorang pelatih yang layak diperhitungkan. Ia juga sekaligus bisa menepis stigma jika mantan penjaga gawang pun bisa berprestasi ketika didaulat sebagai juru taktik

***

The Goalie adalah rubrik khusus untuk mengapresiasi para penjaga gawang yang perannya kadang terlupakan. Para sosok yang terpilih dalam rubrik The Goalie didasarkan pada performa di lapangan atau punya kisah menarik lain yang tak banyak diketahui. Nantikan rubrik The Goalie selanjutnya di website bawahmistar.com


Mengamini Keputusan Spurs Mendatangkan Joe Hart

Tottenham Hotspur bergerak cepat di bursa transfer sejauh ini. Dua nama telah resmi merapat ke White Hart Lane. Pertama adalah Pierre-Emile Hojbjerg yang didatangkan dari Southampton dengan bandrol 15 juta euro. Pemain berikutnya merupakan mantan penjaga gawang Timnas Inggris, Joe Hart.

Dibanding Pierre-Emile Hojbjerg, keputusan Spurs merekrut Joe Hart dari Burnley menimbulkan tanda tanya besar. Meski dibeli dengan cuma-cuma, tapi penjaga gawang yang kini berusia 33 tahun tersebut dianggap telah habis. Musim terakhirnya di Burnley, Joe Hart cuma bermain sebanyak tiga kali. Semuanya terjadi di Piala Liga. 

Joe Hart gagal beradaptasi sebagai Sweeper-Keeper dalam skema taktik Tiki-Taka semenjak kedatangan Pep Guardiola di Manchester City tahun 2016. Sweeper-Keeper diberikan tanggung jawab untuk jadi opsi bagi pemain bertahan ketika melakukan build-up serangan. Ketenangan, akurasi operan, dan visi bermain jadi syarat mutlak yang dibutuhkan seorang Sweeper-Keeper. Sayangnya tiga elemen itu tidak ada dalam diri Joe Hart.

Terpinggirkan oleh Pep, Joe Hart lantas dipinjamkan ke Torino dan West Ham United, sebelum akhirnya membela Burnley selama dua musim terakhir. Pertandingan terakhirnya di Premier League terjadi pada Boxing Day 2018. Kala itu Burnley dihajar Everton 5-1.

Kariernya di timnas pun tak berjalan baik. Menjadi pilihan pertama di bawah mistar gawang Inggris kala mengarungi Euro 2016, Joe Hart tidak lagi jadi bagian skuat The Three Lions pada Piala Dunia 2018. 

Lantas, kenapa Tottenham Hotspur sampai mau mendatangkan Joe Hart? Jika ada satu orang yang perlu menjawab pertanyaan tersebut, ia adalah Jose Mourinho. 

Seperti dikutip dari The Athletic, Jose Mourinho cukup tertarik dengan kepribadian sang penjaga gawang. Bahkan pada tahun 2017, Mourinho berniat membawa Hart ke Old Trafford.

Harry Kane dan Dele Alli yang notabene adalah rekan Joe Hart di Timnas Inggris pun mengagumi kepribadiannya. Meski performanya di atas lapangan terus menurun, tapi Joe Hart tetap dianggap salah satu figur paling dihormati bagi rekan-rekannya. Diharapkan kedatangan Joe Hart di Tottenham Hotspur pun bisa jadi panutan bagi para pemain muda. 

Peran ini jugalah yang Joe Hart lakukan saat membela Burnley. Sean Dyche memuji tingkat keprofesionalan Hart ketika berlatih, meskipun ia cuma didapuk jadi kiper cadangan. 

Nick Pope belajar banyak darinya. Para staf klub terkesan terhadap cara Hart membantu kiper muda klub, seperti Bailey Peacock-Farrell dan Lukas Jensen, dengan menawarkan bimbingan kepada mereka.

Bersama Mourinho, Hart pun tak perlu khawatir perilah gaya main. Dibanding dengan klub top six lainnya, Spurs di bawah asuhan Mourinho bermain lebih direct dan pragmatis alih-alih harus melakukans build up serangan dari bawah seperti Manchester City atau Liverpool.

Salah satu faktor lain yang membuat kedatangan Joe Hart cukup tepat untuk Tottenham Hotspur adalah statusnya sebagai pemain Inggris. Dengan kata lain, Joe Hart bisa didaftarkan sebagai homegrown player.

Premier League memiliki aturan khusus supaya klub hanya boleh memiliki maksimal 17 pemain asing dari 25 pemain yang didaftarkan. Aturan ini yang membuat Spurs hanya mendaftarkan 20 pemain saja (kecuali pemain di bawah usia 21 tahun) pada Februari lalu. Spurs cuma punya 4 homegrown player kala itu (Kane, Dele, Harry Winks dan Ben Davies)

Premier League mendefinisikan homegrown player adalah pemain berusia 21 tahun atau lebih yang telah menghabiskan tiga musim kariernya di usia 16 - 21 tahun di kancah persepakbolaan Inggris atau Wales. Hal inilah yang membuat Eric Dier tidak masuk hitungan homegrown player karena masa mudanya dihabiskan di Portugal.

Hadirnya Hart sebagai homegrown player dan perginya sejumlah pemain asing seperti Jan Vertonghen, Victor Wanyama, dan Michael Vorm (kiper ketiga) membuat Spurs memiliki jatah untuk menambah pemain asing untuk didaftarkan. 

Mourinho tentu tak ingin menyia-nyiakan slot pemain asing kepada kiper cadangan ketiga yang jarang bermain. 

Spurs pun bukan tim pertama yang memilih mendatangkan penjaga gawang uzur yang berstatus homegrown player untuk jadi pilihan ketiga di bawah mistar.

Musim lalu Manchester City meminjam Scott Carson yang berusia 34 tahun dari Derby County. Chelsea pun melakukan hal serupa dua musim lalu dengan merekrut Robert Green yang kini sudah memasuki kepala empat.

Meski hanya diplot sebagai penjaga gawang ketiga setelah Hugo Lloris dan Paulo Gazzaniga, tapi pengalaman, kepribadian, dan statusnya sebagai homegrown player jadi faktor-faktor yang bikin keputusan Spurs mendatangkan Joe Hart cukup masuk akal. 

Penalti yang Menumbangkan Mimpi Karl-Johan Johnsson

Sebelum laga perempat final Liga Europa antara Manchester United vs FC Copenhagen yang berlangsung di Stadion RheinEnergie, Selasa (11/8/2020) dini hari WIB, mungkin hanya segelintir orang yang mengenal sosok Karl-Johan Johnsson. Namun, ia mendadak jadi momok paling menyebalkan bagi para pendukung Setan Merah.

Manchester United harus tertatih-tatih untuk bisa menang 1-0 dan lolos ke babak semifinal setelah melalui drama perpanjangan waktu. Gol semata wayang pasukan Ole Gunnar Solskjaer dicetak oleh Bruno Fernandes lewat titik putih pada menit ke-105. 

Trio Anthony Martial, Mason Greenwood, dan Marcus Rashford dibuat mati kutu oleh penampilan fantastis Karl-Johan Johnsson.

Tercatat, penjaga gawang kelahiran Swedia itu berhasil menghalau 13 tendangan sepanjang laga yang berlangsungs selama 120 menit. Jumlah penyelamatan Karl-Johan Johnsson adalah yang tertinggi dalam satu laga sepanjang sejarah Liga Europa sejak 2009.

Meski gagal mengantarkan timnya melaju ke babak semifinal, tapi Karl-Johan Johnsson terpilih sebagai pemain terbaik di laga tersebut dengan perolehan rating 8,6 versi whoscored.com.

Mantan punggawa Manchester United, Robin van Persie, memuji habis-habisan sang penjaga gawang yang kini memasuki usia 30 tahun. Bahkan ia mengaku heran mengapa kiper sekelas Johnsson hanya bermain bagi klub kecil.

Saat ditanya apakah ada kemungkinan Karl-Johan Johnsson membela klub yang lebih besar setelah pertandingan tersebut, Van Persie menjawab, "Dia layak mendapatkan kesempatan itu."

Karier Karl-Johan Johnsson sebenarnya bisa saja. Memulai debut bersama klub Liga Swedia, Halmstad pada tahun 2008, Johnsson kemudian hijrah empat tahun berselang dengan membela NEC Nijmegen.

Di sana ia cuma bertahan semusim sebelum akhirnya pindah ke tim Denmark, Renders FC. Petualangan sang penjaga gawang berlanjut setelah tiga musim membela Renders FC. Klub Perancis, FC Guingamp yang jadi pelabuhan berikutnya.

Di sinilah Karl-Johan Johnsson menemukan permainan terbaiknya di bawah mistar. Ia menorehkan 103 laga, yang terbanyak dibanding tiga klub yang pernah dibela sebelumnya. 

Kepiawaiannya membuat FC Copenhagen kepincut. Pada awal musim 2019, klub Swedia tersebut memboyong Johnsson ke Telia Parken. Sampai saat ini, Johnsson telah bermain sebanyak 43 laga di semua kompetisi dengan catatan 12 kali nir bobol.

Di level Timnas, Karl-Johan Johnsson memiliki 7 caps pertandingan membela Swedia sejak melakukan debut pada tahun 2012.

Karl-Johan Johnsson memang harus mengubur mimpinya untuk bisa terus mengarungi sengitnya Liga Europa musim ini. Namun, jika melihat penampilan terakhirnya di laga kontra Manchester United, rasanya ia tak perlu terlalu kecewa.

Seperti apa yang dilontarkan oleh Owen Hargreaves sesaat setelah laga selesai, "Satu-satunya cara Manchester United bisa mengalahkan dia hanyalah dari titik penalti."

Penjaga Gawang, Sejarah Pemilik Nomor Satu yang Abadi


Angka satu kerap dikaitkan dengan yang terbaik. Ranking satu di sekolah, posisi satu di sebuah perlombaan, juara satu di hati seseorang, adalah beberapa contoh mengapa satu angka yang begitu sakral.

Jika beralih ke sepakbola, nomor satu selalu identik dengan peran penjaga gawang. Seperti sebuah aturan tak tertulis, setiap tim sepakbola akan mempercayakan nomor punggung satu kepada sosok yang ada di bawah mistar gawang tersebut.

Penjaga gawang memang sangat spesial jika dibanding dengan peran-peran pemain lain di sepak bola. Setiap tim boleh tidak memainkan strikernya, tapi jangan harap melihat tim tersebut tampil tanpa sosok penjaga gawang di bawah mistar.

Penjaga gawang juga jadi satu-satunya pemain yang diizinkan menyentuh bola menggunakan tangan. Kecuali Diego Maradona di final Piala Dunia 1986, kamu akan melihat pemain dihadiahi kartu kuning atau bahkan merah jika dengan sengaja menyentuh si kulit bundar dengan tangan.

Selain peran spesialnya, apa yang menjadi dasar utama penjaga gawang selalu menggunakan nomor punggung satu?

Jawabannya hadir pada tahun 1928, tepat saat Arsenal yang diasuh Herbert Chapman bertanding melawan Sheffield Wednesday di First Division. Pertandingan tersebut menjadi sejarah karena untuk pertama kalinya, sebuah kesebelasan sepakbola memakai nomor punggung di setiap pemainnya.

Nomor punggung tersebut diurut berdasarkan posisi dalam formasi 2-3-5 yang saat itu sedang populer. Ketentuannya; Penjaga Gawang (1), full-back kanan (2), full-back kiri (3), right-half (4), center-half (5), left-half (6), outside-right atau penyerang sayap kanan (7), inside-right (8), center-forward atau penyerang tengah (9), inside-left (10), dan outside-left atau penyerang sayap kiri (11).

Pemberian nomor punggung tersebut menjadi terobosan paling revolusioner kala itu. Penonton yang menyaksikan jalannya pertandingan, bisa dengan mudah mengidentifikasi setiap pemain yang berlaga di lapangan.

Pada tahun 1939, FA membuat aturan resmi terkait kewajiban setiap tim di Liga Inggris untuk memberikan nomor punggung 1-11 kepada pemain yang jadi starter.

Meski tak ada aturan pasti yang menentukan nomor punggung mewakili posisi tertentu di lapangan, tapi secara alamiah memunculkan standar jika seorang penjaga gawang akan secara absolut mengenakan nomor punggung satu. Kesepakatan tak tertulis ini nyaris diterima secara universal.

Argentina yang Berani Beda

Karena tak ada aturan baku, tak selamanya pemberian nomor punggung selalu berdasarkan posisi sang pemain. Ambil contoh yang paling terkenal adalah Timnas Argentina di Piala Dunia 1978 dan 1982. Alih-alih mengikuti tren yang ada, Argentina malah memberikan nomor punggung sesuai alfabet.

Akibat ketentuan itu, Ossie Ardilles didapuk menjadi pemain Argentina yang mengenakan nomor punggung satu. Padahal Ardilles tidak berposisi sebagai penjaga gawang.

Namun, dari semua pemain Argentina tersebut, ada satu pemain yang tak mengindahkan aturan nomor punggung. Ia adalah Diego Maradona. Alih-alih memakai nomor punggung 12 sesuai urutan abjad, Maradona diizinkan mengenakan nomor 10 yang dikenal keramat.

Mereka yang Menolak dan Ingin Menjadi Nomor Satu

Saat ini, pemberian nomor punggung sudah lebih fleksibel. Patron tentang nomor punggung harus sesuai posisi pemain mulai ditinggalkan. Banyak penjaga gawang yang tak menginginkan memakai nomor satu dengan berbagai alasan.

Misalnya Rui Patricio yang di Wolves mengenakan nomor 11. Alasannya sebagai bentuk penghormatan kepada penjaga gawang Carl Ikeme yang terkena Leukimia. Atau ada juga Pepe Reina yang identik dengan nomor 25.

Jika ada penjaga gawang yang menolak, uniknya ada pula pemain-pemain outfield yang malah ingin mencicipi nomor punggung satu.

Legenda Belanda, Edgar Davids, pernah mengenakan jersey nomor satu ketika membela Barnet FC di League Two. Alasannya saat itu Davids menjabat sebagai pemain sekaligus pelatih tim.

Simon Vukcevic dipercaya memakai nomor punggung satu oleh FK Partizan di Liga Serbia. Itu merupakan bentuk penghargaan atas popularitasnya di kalangan pendukung Partizan. Kala itu Vukcevic berusia 17 tahun tapi sudah menjadi andalan dan idola fans Partizan.

Di balik sejarahnya yang panjang, satu tetaplah jadi nomor abadi untuk seorang penjaga gawang. Satu bisa jadi bentuk apresiasi tertinggi pada posisi yang wajib dan tak akan pernah terggantikan dalam permainan sepakbola.

***

Buah Kesabaran 10 Tahun Emiliano Martinez

Dalam sebuah interview pekerjaan, tak jarang ditemui pertanyaan yang menguji rasa percaya diri seseorang. Salah satunya, "apa yang kamu lihat di lima tahun ke depan?" Andai sang pelamar itu adalah Emiliano Martinez, waktu lima tahun belumlah cukup. Butuh kesabaran 10 tahun lamanya, hingga ia akhirnya dapat kesempatan membuktikan kualitas yang dimiliki.

Arsenal mengalahkan Chelsea 2-1 dalam laga final FA Cup pada Minggu (2/8/2020) dini hari di Stadion Wembley. Pierre-Emerick Aubameyang jadi pahlawan berkat dua golnya. 

Penyerang asal Gabon tersebut memang jadi sorotan utama dalam laga final FA Cup kali ini, tapi sebenarnya masih ada sosok lain yang luput dari perhatian. Ia adalah palang pintu terakhir pertahanan Arsenal, Emiliano Martinez. 

Bisa dibilang, laga ini adalah pertandingan terbesarnya selama membela The Gunners. Sejak kiper utama Bernd Leno menderita cedera ketika berhadapan dengan Brighton pada Juni lalu, praktis Emiliano Martinez yang berstatus kiper cadangan  naik pangkat. Martinez tak menyia-nyiakan kesempatan untuk jadi pilihan pertama di bawah mistar Arsenal. Hingga akhirnya berhasil mengantar Arsenal juara FA Cup.

Buah Kesabaran 10 Tahun


Mungkin tak banyak yang tahu jika musim ini adalah tahun ke-10 Emiliano Martinez membela Arsenal. Menjadikannya sebagai pemain "paling senior" di skuat Mikel Arteta. Bahkan legenda-legenda Arsenal saja sedikit kali yang begitu setia seperti Emiliano Martinez. Ambil contoh Thierry Henry yang berbaju Arsenal selama delapan musim, atau Robert Pires yang cuma enam musim.

Hal yang membuat Emiliano Martinez tak banyak dibicarakan, karena masa 10 tahunnya membela Arsenal lebih banyak dihabiskan di klub-klub lain sebagai pemain pinjaman.

Bergabung di akademi Arsenal pada tahun 2010, kiper kelahiran Argentina ini baru bisa menjalani debut pada tahun 2012 melawan Coventry City di Carabao Cup setelah sebelumnya dipinjamkan ke Oxford United.

Emiliano Martinez kembali dipercaya menjalani penampilan keduanya di kompetisi yang sama melawan Reading, Martinez bisa dibilang tampil buruk karena kemasukan 5 gol. Beruntung Arsenal masih bisa menang 7-5 berkat hattrick Theo Walcott.

Musim 2013–2014 jadi kali kedua Martinez dipinjamkan. Berseragam Sheffield Wednesday, Martinez cuma melakoni 11 laga. Di musim berikutnya, ia kembali ke Arsenal dan menjadi kiper ketiga pelapis David Ospina dan Wojciech Szczesny.

Seolah mendapat berkah dari cederanya David Ospina dan hukuman larangan tampil yang diterima Wojciech Szczesny, Martinez mendapat kesempatan menjalani debut di panggung Liga Champions melawan Anderlecht. Arsenal sukses meraih kemenangan 2-1 dalam laga tersebut.

Sebulan berselang, Martinez kembali bermain ketika Wojciech Szczesny mengalami cedera. Kali ini di ajang Premier League melawan Manchester United. Sejak itu, ia tampil dalam empat pertandingan Arsenal berikutnya.

Itu kali terakhir Emiliano Martinez bisa dipercaya mengawal bawah mistar Arsenal. Dalam empat musim berikutnya, Martinez empat kali dipinjamkan ke klub berbeda-beda. Mulai dari Rotherham United (2015), Wolves (2015-2016), Getafe (2017-2018), dan Reading (2019).

Musim 2019-2020, Unai Emery memercayai Emiliano Martinez sebagai deputi Bernd Leno di bawah mistar gawang sehingga tak ada lagi "masa sekolah" bagi kiper Argentina tersebut.

Bahkan Unai Emery selalu menurunkan Martinez di semua laga Liga Europa yang dimainkan Arsenal. Meskipun, kiprah Arsenal harus kandas di babak 16 besar.

Seperti sudah disebutkan, laga Arsenal melawan Brighton pada Juni lalu bagaikan momentum karier Emiliano Martinez di London Utara. Kala Bernd Leno harus ditandu keluar lapangan karen cedera, praktis Martinez jadi pilihan utama.

Sejak saat itu, Martinez selalu mengawal gawang Arsenal hingga pertandingan final FA Cup melawan Chelsea. Bahkan persentase save Martinez di Premier League musim ini adalah 81.8%, mengungguli Bernd Leno yang cuma 74,2%.

Roda Hidup yang Terus Berputar


Damián Emiliano Martínez Romero, lahir di Mar del Plata, Argentina, pada 2 September 1992. Martinez besar dalam keluarga yang tergolong miskin. Di suatu kesempatan, bahkan orang tuanya kesulitan menyediakan makanan dan membayar tagihan.

Martinez mulai mengenal sepakbola ketika bergabung dengan klub junior Independiente yang berlokasi 400 km dari kampung halamannya.

Saat berusia 16 tahun, bakat Martinez tercium oleh pemandu bakat Arsenal. Mahar 1,1 juta euro dikeluarkan The Gunners demi memboyongnya dari Independiente.

Sebenarnya, keluarga tak mengizinkan dirinya untuk meninggalkan Argentina. Namun, Martinez yang masih berusia 16 tahun kala itu bersikukuh untuk pergi dan bercita-cita mengubah kondisi ekonomi keluarga melalui sepakbola.

Sepuluh tahun setelah meninggalkan Argentina, sepuluh tahun setelah dipinjamkan ke berbagai klub, sepuluh tahun setelah menjadi kiper pelapis Arsenal, kini Emiliano Martinez berhasil memanen buah kesabaran yang terus ia pupuk.

Sebuah foto memperlihatkan Emiliano Martinez sedang face call dengan keluarganya di Argentina sesaat setelah ia menjuarai FA Cup. Sebuah foto yang memancarkan gurat haru, mengajarkan arti dari kesabaran.

***